Mafia di Nusantara

Reformasi yang melahirkan demokrasi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan yang kita inginkan. Demokrasi yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan namun yang terjadi adalah karut marut disetiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi hanya melahirkan kebebasan yang tidak bertanggung jawab seperti demonstrasi yang berujung kekerasan, ketidakpuasan yang disertai unjuk rasa dan perilaku-perilaku yang tidak semestinya yang mengatasnamakan demokrasi. Tiga pilar penyelenggara negara yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif di era demokrasi ini justru menjadi sumber masalah dan terkooptasi oleh berbagai kepentingan yang pada akhirnya lahirlah istilah-istilah yang sungguh sangat tidak enak didengar ditelinga kita sebagai bangsa.Istilah-istilah itu sekarang menjadi menu kita setiap hari yang bisa kita lihat di Televisi, dibaca di Surat Kabar atau kita dengar mulai dari forum diskusi sampai obrolan ringan di warung kopi. Istilah yang dimaksud adalah Mafia Hukum, Mafia Pajak, Mafia Anggaran, Mafia Peradilan, Mafia Pemilu dan mafia-mafia lain yang sudah pasti konotasinya adalah kejahatan.

Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia masuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim) yang kemudian dalam perkembangannya mulai melakukan kejahatan teroganisir (wikipedia.org). Karena kejahatan yang dilakukan sifatnya teroganisir dan sistematis inilah yang kemudian timbulah istilah-istilah di atas.
Istilah mafia hukum muncul manakala terjadi jual beli hukum baik itu di kepolisian saat pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan maupun kejaksaan.pada saat penuntutan di pengadilan. Dan jika vonis yang dijatuhkan oleh hakim dipengadilan tidak sesuai dengan tuntutan jaksa maka kemudian lahir lagi istilah mafia peradilan.
Istilah mafia pajak, pertama kali muncul ketika seorang pegawai Ditjen Pajak gol IIIa memiliki harta diluar batas kewajaran. Usut punya usut, itu semua diperoleh karena melakukan praktek kongkalikong dengan perusahaan wajib pajak. Terkuaknya usaha penyuapan yang dilakukan pengusaha terhadap pejabat di kemenpora dan kemenakertrans oleh KPK inilah yang menjadi bibit munculnya istilah mafia anggaran. Praktek percaloan anggaran di Badan Anggaran DPR yang melibatkan anggota badan anggaran sempat menjadi pomelik dan perseturuan antara DPR dan KPK. Demikian pula kasus surat palsu KPU yang berkaitan dengan penentuan kursi di DPR menjadi penyebab munculnya istilah Mafia Pemilu.

Kasus-kasus di atas yang sudah menjadi ranah publik karena pemberitaan yang besar di media massa tentunya menjadi keprihatinan kita karena hal itu erat hubungannya dengan perilaku korupsi. Karena tidak mungkin kejahatan yang teroganisir semacam itu tidak ada unsur uang yang bermain di dalamnya sebagai balas budi. Entah benar atau tidak, dari pemberitaan sudah banyak jaksa, pejabat, anggota DPR/DPRD, hakim yang di tangkap karena menerima suap terkait kasus-kasus yang ada hubungannya dengan hukum, anggaran, peradilan, perpajakan dan masalah pemilu bahkan ada yang sudah divonis. Sudah separahkah bangsa ini sehingga sulit keluar dari keterpurukan yang multi dimensi sekarang ini? Keprihatinan tokoh-tokoh lintas agama, pengamat dan sesepuh bangsa ternyata belum juga menyadarkan para penyelenggara negara baik yang ada di legislatif, eksekutif dan yudikatif untuk bekerja dengan menempatkan hati nurani dan integritas moral di atas kepentingan apapun. tentunya Kita tidak berharap bangsa ini menjadi bangsa yang gagal. Semoga….

2 Tanggapan to “Mafia di Nusantara”

  1. odisumantri Says:

    Izin baca pak.

    Tetap semangat isi blognya ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: