Terserabutnya Estetika Ruang Publik kita

Pemilu legeslatif tinggal hitungan hari. Para caleg dari berbagai partai politik baik untuk DPRD Kota/Propinsi maupun Pusat sudah mulai menjajakan jualannya setidaknya dalam bentuk foto diri. Oleh karena itu di sudut-sudut kota bahkan desa yang menjadi ruang publik, kita menyaksikan foto-foto calon politisi bertebaran baik dalam ukuran mini sampai raksasa. Semuanya mencantumkan infomercial khusus, spt gelar akademis lengkap, gelar agama bahkan gelar bangsawan pun dimasukan. Hal itu tentunya berdasarkan keyakinan bahwa credential-credential ini bisa mempengaruhi publik.

Tidak salah memang yang mereka lakukan dimana arena kompetisi untuk menjadi seorang legislator begitu ketatnya. Dengan jumlah partai yang begitu banyak dan masing-masing mencalonkan orang-orang terbaiknya sudah pasti akan terjadi persaingan ketat untuk bisa duduk di kursi DPR atau DPRD. Belum lagi dengan sistem suara terbanyak dalam penentuan calon yg menang, kompetisi ini tidak hanya dirasakan dengan caleg dari partai lain tetapi jg dalam  internal partai. Bagi caleg yang sudah dikenal luas oleh publik baik karena mereka selebriti, incumbent, atau mantan pejabat sipil atau militer penyebaran foto diri mungkin tidak semasif caleg-caleg yang tidak dikenal. Lain halnya caleg yang diajukan oleh parpol baru dimana publik belum mengenalnya. Salah satu yg paling efektif untuk “menjual diri”nya agar dikenal publik yaitu dengan penyebaran spanduk, poster, pamflet, kartu nama dsb. Apa yang terjadi kemudian?

Bisa kita lihat sepanjang jalan, setiap sudut kota tidak hanya di Jakarta, kota-kota lain pun sama. Pohon, tiang listrik, tiang telepon, pagar pembatas jalan dipenuhi dengan atribut parpol, slogan parpol dan foto caleg. Kota tidak lagi indah karena hampir semua ruang publiknya dipenuhi  dengan foto-foto calon politisi. Tidak ada aturan pemda terhadap pemasangan atribut partai memperparah kondisi ini. Seandainya persoalan ini disamakan seperti layaknya pemasangan iklan sebuah produk yang dikenakan biaya restribusi barangkali pemandanganny  akan lain. Foto caleg, spanduk, baliho akan dipasang pada tempat-tempat yang sdh ditentukan dan  waktunya juga dibatasi sesuai dengan kemampuan keuangan partai atau caleg yg bersangkutan. Tapi apa mau dikata, masih sekitar 60 hari lagi saja pemilu legislatif , kota sudah dipenuhi dengan berbagai atribut bagaimana jadinya bila sudah memasuki masa kampanye? kita tunggu saja. Atas nama demokrasi memang terkadang kita boleh dan bisa melakukan apa saja, tidak hanya dalam hal pemasangan atribut atau foto yang targetnya mendapatkan dukungan suara publik tapi demonstrasi pun sudah menjadi pemandangan kita sehari-hari. Semog pemilu berjalan dengan damai.

image : http://202.57.16.35/images/foto/atribut_parpol.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: