Hari Guru Nasional (sebuah renungan)

Hari Guru Nasional yang sekaligus juga berbarengan dengan HUT PGRI ke 63 telah kita sama-sama lewati. Kemeriahan dalam rangka menyambut HUT ini ditandai dengan berbagai kegiatan baik dalam skala tingkat kabupaten/propinsi maupun nasional seperti gerak jalan, pertandingan olah raga sampai kongres yang diadakan selama 2 hari tanggal 27 dan 28 Nopember di Balai Kartini. Berita-berita yang menggembirakan sebagai bentuk apresiasi terhadap profesi guru meluncur dari pejabat di negeri ini mulai dari gaji paling rendah 2 juta sampai pembayaran tunjangan profesi yang segera akan dibayarkan termasuk juga program sertifikasi.

Namun disisi lain, setiap Hari Guru juga mengisahkan cerita pilu dari sebagian teman-teman guru yang berstatus honorer. Pengabdian mereka dalam upaya mencerdaskan anak bangsa tidak sebanding dengan gaji yang diterimanya. Jangankan untuk membeli buku untuk memperkaya pengetahuannya, sekedar mempertahaankan agar kebutuhan hidup keluarga terpenuhi kadang harus nyambi kerja yang lain.

Demikian juga teman-teman guru bantu yang ada di Jakarta, berbeda dengan guru bantu yang ada di daerah yang sudah diangkat menjadi PNS, teman-teman di Jakarta belum jelas nasibnya. Berbagai upaya dan usaha sudah mereka lakukan seperti demonstrasi, mendatangi DPRD, Dinas pendidikan tapi hasilnya masih kalau boleh dikatakan “gelap”. Bahkan hak-hak mereka yang seharusnya sudah diterima belum juga diberikan. Demikian sepenggal kisah pilu dari teman-teman guru yang kebetulan statusnya belum PNS terkait hari guru nasional meskipun sama-sama mempunyai tugas dan tanggung jawab yaitu mendidik anak bangsa menjadi generasi yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis dan berakhlak. Bersabarlah wahai teman-teman…..(kelihatannya mudah mengatakan tapi kenyataan berat menjalankannya)

Dan bagi teman-teman yang beruntung, peningkatan kesejahteraan hendaknya dibarengi dengan peningkatan kompetensi dalam mendidik dan mengajar. Jadilah guru yang “OUT OF BOX”, yang bisa memberikan inspirasi pada anak didik kita sehingga menjadi generasi yang lebih baik. Berubah adalah kata kuncinya.

Berubah dari kebiasaan yang monoton atau yang itu-itu saja sementara hal itu tidak memberikan kemajuan pada diri kita dan sekelilingnya

Berubah ke arah peningkatan kualitas diri dalam rangka mengemban amanah negara mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga………………….

Ditulis dalam Opini Pribadi. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Hari Guru Nasional (sebuah renungan)”

  1. penginapan di jakarta Says:

    mampir nich dari jakarta selatan…
    saya suka blog anda. also visit jasa pengamanan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: