Membangun Kemandirian Bangsa (bag. pertama)

Indonesia Bisa dan Indonesia Bangkit, adalah slogan/pekik yang kita dengar akhir-akhir ini dalam rangka memperingati satu abad Kebangkitan Nasional. Dalam konteks inilah saya mencoba menulis tentang harapan saya dan semua masyarakat Indonesia mengenai kemandirian Bangsa. Berharap Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dalam berbagai aspek dan tidak mudah didikte, dipengaruhi apalagi dilecehkan dalam hal ekonomi, politik, dan hankam.

A. PENDAHULUAN

Pada hakekatnya makhluk hidup di muka bumi ini tidak terlepas dari adanya ketergantungan dan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya dan juga dengan lingkungannya. Namun, diatas ketergantungan dan keterkaitan itu, Allah menciptkan keteraturan, dimana pada posisi ini akan tercapai suatu keseimbangan, sehingga setiap unsur atau makhluk hidup dalam kondisi hidup yang seimbang dengan lingkungan yang dihuninya. Proses keteraturan itu analog dengan proses terciptanya kemandirian bagi manusia, dan biasanya kemandirian ini diperoleh setelah dewasa. Pada usia dewasa inilah manusia bisa mandiri dalam banyak hal termasuk dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Sudah barang tentu proses menuju kemandirian cepat atau lambat, sangat ditentukan oleh cepat atau lambat  berkurangnya tingkat ketergantungan dan keterkaitan, sehingga pada gilirannya terwujudlah kemandirian.

Membngun kemandirian bangsa berarti memahami poses kemandirian sebagai suatu usaha membangun bangsa yang mampu menyelesaikan setiap masalah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan bermartabat. Dengan umur bangsa yang sebentar lagi berulang tahun ke 63, sudahkan bangsa ini mandiri? Sudahkah Bangsa ini mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera? Dan sudahkan bangsa ini memiliki martabat yang sehingga tidak lagi ada bangsa lain yang melecehkan? Maka sangat penting kiranya membangun bangsa yang mandiri ditengah pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia dan di era globalisasi yang sangat berpengaruh ini. Dari sisi usia sejak negeri ini merdeka, seharusnya sudah mampu menjadi negara yang tidak terlalu tergantung pada belas kasihan negara lain, tidak terlalu terpengaruh kondisi gejolak financial di negara lain dalam roda perekonomian dan seharusnya juga memiliki kebanggaan atas produk yang dihasilkan sendiri sebagai pembuktian atas kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. PENGERTIAN KEMADIRAIAN.

Kemandirian, menurut  Sutari Imam Barnadib (1982) dalam Mu’tadin, Z meliputi “Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi masalah/hambatan, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali yang mengatakan bahwa “Kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian suatu keadaan dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya. Dengan demikian akan berperilaku yang :

  1. mampu menganbil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,
  2. memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya,
  3. bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Dalam konteks kebangsaan, bangsa yang mandiri itu artinya bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dengan segala sumberdaya yang dimiliki, mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dan mampu mengembangkan inovasi dan riset di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing. Hal ini dipertegas oleh Robert Havighurst (1972) bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :

  1. Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang lain,
  2. Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain,
  3. Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dan kemampuan mengembangkan daya kreasi dan inovasi.
  4. Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak menunggu aksi dari orang lain.

Memperhatikan beberapa aspek di atas, berarti kemandirian merupakan suatu sikap yang diperoleh secara komulatif selama perkembangan hidupnya dimana suatu bangsa akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapinya. Dengan kemandiriannya, suatu bangsa dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang lebih baik dan lebih mantap.

C. KEMANDIRIAN BANGSA SEBAGAI KENISCAYAAN

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah. Namun kenyataannya, kekayaan tersebut tidak berbanding lurus dengan keadaan masyarakatnya dimana masyarakat miskin masih sekitar 30% dari jumlah penduduk, angka pengangguran masih tinggi dan kesempatan memperoleh pendidikan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Dengan kata lain negara belum mampu memenuhi secara utuh yang menjadi hajat hidup orang banyak, seperti harga pangan yang melambung akibat harga minyak dunia yang tinggi, minyak goreng semakin mahal, biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau dan krisis energi terutama listrik tinggal menunggu waktu. Pertanyaan kita, apakah bangsa ini akan terpuruk pada kondisi larang pangan, larang papan, larang sekolah dan larang-larang yang lain? Melihat kondisi SDA yang berlimpah di negeri ini sejujurnya tidak mungkin akan terjadi tetapi kenyataanya seperti itu. Apa yang mesti dilakukan? Jawabanya marilah kita mulai mandiri.

1.  Mandiri di bidang ekonomi.

Globalisasi membawa dampak luas pada berbagai bidang kehidupan terutama ekonomi. Globalisasi ekonomi merupakan gejala mondial yang ditandai dengan aktivitas bisnis dan perdagangan antar negara yang kian massif dan intensif. Globalisasi menafikan batas-batas negara sehingga manakala terjadi gejolak ekonomi di  suatu wilayah/regional maka akan berimbas pada perekonomian wilayah lain seperti yang terjadi saat ini ketika Amerika Serikat ditimpa kredit macet perumahan maka dampaknya terhadap perekonomian kita juga terasa yaitu penurunan nilai rupiah dan IHSG. Kita tidak bisa memungkiri bahwa faktor eksternal sangat berpengaruh dalam perekonomian negara kita terutama gejolak financial dan melambungnya harga minyak mentah dunia. Tetapi paling tidak kita harus memiliki basic sistem perekonomian yang tahan terhadap gejolak ekonomi dunia seperti yang contohkan oleh Thailand, Malaysia dan Korea yang sudah mampu keluar dari krisis tahun 1997 yang lalu.

Sebenarnya kita pernah memiliki sebuah sistem ekonomi yang disebut dengan Ekonomi Kerakyatan yang memberikan kesempatan secara luas pada masyarkat dalam kegiatan ekonomi. Ekonomi Kerakyatan adalah tatanan ekonomi dimana aset ekonomi dalam perekonomian nasional didistribusian kepada sebanyak-banyaknya warga negara (Mardi Yatmo Hutomo, BAPENAS). Secara normatif, moral filosofis sistem ekonomi kerakyatan sebenarnya sudah tercantum dalam UUD ‘45, khususnya pasal 33, yang jika disederhakanakan bermakna bahwa perekonomian bangsa disusun berdasarkan demokrasi ekonomi dimana kemakmuran rakyat banyaklah yang lebih diutamakan dibandingkan kemakmuran orang perorangan. Kemudian, karena bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah pokok-pokok atau sumber-sumber kemakmuran rakyat, maka hal tersebut berarti harus dikuasai dan diatur oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sehingga hak-hak kesejahteraan ekonomi (economic rights) bisa terpenuhi. Yang terjadi saat ini adalah sebaliknya, kemampuan masyarakat di dalam memenuhi hak kesejahteraannya begitu rendahnya. Disisi lain kepemilikan modal atas corporasi yang mengekploitasi SDA dimiliki oleh pihak asing sehingga keuntungan banyak mengalir keluar negeri. Begitu pula dengan produk barang dan jasa, hanya dikuasi oleh segelintir orang.

Menurut Laica Marzuki (penerapan sistem ekonomi kerakyatan), Fakta empirik menjelaskan bahwa, Produsen barang dan jasa private jumlahnya terbatas. Yang memproduksi 78,5 persen output nasional dalam bentuk barang dan jasa private hanya oleh 200 orang warga negara. Sedang 21,5 persen output nasional diproduksi oleh jutaan orang warga negara melalui usaha mikro, usaha kecil dan menengah. Sementara 89,5 persen tenaga kerja yang ditawarkan di pasar input dibeli oleh 99,5 persen produsen yang outputnya hanya 21,5 persen. Sedang hanya 10,5 persen tenaga kerja yang dibeli oleh 0,5 persen produsen yang outputnya 78,5 persen. Sebaliknya, modal yang pergunakan oleh 0,5persen produsen mencapai sekitar 85 persen dari dari modal yang ada dalam perekonomian, dan tidak lebih dari 7 persen modal yang dipergunakan oleh 95,5 persen produsen. Dalam situasi yang demikian, maka diduga kuat:

(1)   Tidak pernah terjadi market clearing baik di pasar input maupun di pasar output,

(2)   Ada modal yang idle (nganggur) dalam perekonomian,

(3)   Ada tenaga kerja yang idle dalam perekonomian,

(4)   Perekonomian tidak efisien,

(5)   Perekonomian tidak memproduksi barang dan jasa sesuai kapasitas yang dimiliki, dan

(6)   Terjadi kesenjangan ekonomi antar golongan penduduk yang amat lebar.

Melihat kondisi bahwa sistem kapitalisme hanya memberikan kemakmuran pada segelintir orang (globalisasi tidak bisa melepaskan dari sisem ini), sudah saatnya pemerintah menumbuhkan kembali semangat ekonomi kerakyatan. Semangat ini dilandasi pada distribusi keadilan baru kemudian kemakmuran bukan sebalikya. Distribusi sumber-sumber ekonomi yang merata akan menciptakan pendapatan yang merata pula sehingga pada gilirannya tercipta kemakmuran.

Dengan mayoritas pelaku ekonomi kita dalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sudah saatnya keberpihakan pemerintah dan Bank terhadap usaha ini lebih diintesifkan lagi. Nampaknya usaha pemerintah pada UKM dan rakyat kecil ini mulai terlihat pada program-program yang bersifat pemberdayaan masyarakat (iklannya bisa kita laihat di layar TV) dan Bank-bank juga mulai mengucurkan kredit tanpa agunan. Bahkan Presiden sendiri dalam sebuah kesempatan akan memperluas partisipasi masyaakat dalam kepemilikan Kredit Usaha  Rakyat (KUR). Tidak kalah pentingnya juga keberpihakan pada para petani yang notabene menjadi mata pencaharian dari mayoritas masyarakat Indonesia. Namun terkadang meraka juga termasuk masyarkat yang termarginalkan karena umumnya petani kita adalah petani penggarap, meskipun memiliki lahan tapi kurang dari 1 hektar sehingga hasilnya setelah dikurangi biaya produksi masih kurang dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mebiayai pendidikan anak-anaknya. Beberap hari yang lalu di harian Kompas diberitakan bahwa lahan persawahan di wilayah Karawang sudah banyak beralih kepemilikannya pada orang-orang kaya dari Jakarta dan orang kaya setempat. Belum lagi persoalan klasik pada saat musim tanam yaitu kelangkaan pupuk serta mengalami gagal panen bila bencana banjir dan kekerangan menimpa negeri ini. Kredit Usaha Tani (KUT) yang dikucurkan menjadikan kredit macet karena ketidakmampuan petani melunasi pinjamannya. Revolusi Agraria seperti yang pernah menjadi wacana oleh sebagian masyarakat barangkali bisa menjadi solusi untuk pemerataan kepemilikan lahan meskipun gagasan ini terlalu ekstrim. Tetapi saya yakin bila pemerintah mau meningkatkat kesejahteraan petani masih ada cara lain yang lebih elegan seperti subsidi harga pupuk dan benih dan harga gabah yang wajar serta merevitalisasi peran Bulog dan KUD.

Mudah-mudahan upaya sungguh-sungguh pemerintah ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat yang pada akhirnya bisa melepaskan dirinya dari jerat kemiskinan. (bersambung)

image :http://untukindonesia.blogwae.com/files/2007/12/anak_indonesia_by_dicka_v08.jpg

5 Tanggapan to “Membangun Kemandirian Bangsa (bag. pertama)”

  1. anak bugis Says:

    sepakat kakanda,,,tp jangan serakah ya mudah mudahan harapan nya terwujud

  2. Arsyil Hendra Saputra Says:

    Link bagian 2 nya dmn bro?
    kunjungi blog q..

  3. vania Says:

    mana bagian duanya u.u

  4. Tri Mulat Says:

    Salah satu cara menjadi mandiri mungkin mendidik anak menjadi mandiri, kreatif, inovatif, berani gagal. Hal ini bisa dilatih di rumah dengan mengajarkan anak kita percobaan sains seperti yang ada di profesorcilik.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: