Ironi Negara Agraris

Negeri agraris yang terkenal kesuburan tanahnya ini selalu dirundung duka yang berkepanjangan. Masa keemasan sebagai negara yang berhasil dalam hal swasembada pangan, terpuruk menjadi negara pengimpor beras sehingga harganya makin mahal. Pengrajin tahu tempe banyak yang kolaps saat kedelai dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka sehingga harus membeli kedelai impor yang harganya jauh lebih tinggi. Padahal tahu dan tempe adalah menu sehari-hari dari kebanykan masyarakat kita. Disisi lain, melambungnya harga minyak mentah dunia yang berakibat pada kenaikan harga pangan, banyak masyarakat miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka sehingga di beberapa daerah banyak kasus busung lapar dan penderita gizi burukyang kita temui. Ibarat pepatah ” tikus mati di lumbung padi”, apakah mereka akan kelaparan dan mati di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi. Negara ini gagal mewujudkan tujuan dasar sebagaimana yang diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945.

Fokus pemerintah yang lebih mementingkan industrialisasi dan menafikan sektor pertaniaan menjadi salah satu penyebab keterpurukan ini. Departemen Pertanian sebagai pelaksana teknis dalam pembangunan pertanian belum optimal dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berbasis pada pertanian kalau boleh dikatakan sangat tertinggal dibandingkan dengan negara Thailand. Keprihatinan bertambah dengan minimnya peminat generasi muda/lulusan SMA yang memilih jurusan pertanian. Dari hasil pengumuman SNMPTN hari ini 2894 kursi jurusan pertanian tidak terisi alias kosong (sumber). Sungguh menyedihkan melihat kondisi ini sementara menurut informasi, Departemen Pertanian masih kekurangan tenaga Penyuluh Pertanian lapangan (PPL). Kurang minatnya generasi muda terhadap profesi ini atau sektor pertanian dan peternakan barangkali karena pandangan bahwa bekerja disektor ini kurang prestise dan kurang menjanjiakn secara ekonomi. Padahal yang diharapkan adalah bukan bekerja an sich, tetapi bagaimana dengan pengetahuan dan teknologi yang meraka miliki di perkuliahan bisa diterapkan dalam mengembangkan potensi luas lahan dan kesuburan tanah yang dimiliki negeri menjadi produk unggulan pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Mungkin perlu terobosan khusus untuk merangsang para lulusan SMA memilih jurusan pertanian dan peternakan ini dengan program beasiswa misalnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor ini. Sungguh ironi bila negeri agraris ini harus kekurangan tenaga ahli dibidangya apalagi kalau generasi mudanya sudah tidak peduli atas tanah yang subur ini sebagaimana lyrik lagu koesplus:

“………………………….
orang bilang tanah kita tanah sorga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: