PENCERAHAN YANG INSPIRATIF

Seperti yang pernah saya tulis di sini, pak Dedi adalah kepala sekolah yang senantiasa memberikan kesempatan anak buahnya untuk terus mengembangkan diri dalam mencapai kompetensi sebagai seorang guru terutama kompetensi professional. Cara yang beliau lakukan tidak hanya sebatas mengirimkan guru pada pelatihan-pelatihan yang memang rutin diselenggarakan oleh Dinas DIKMENTI baik tingkat kota maupun propinsi tetapi sering juga mendatangkan para pakar yang kompeten seperti hari Jum’at kemarin. Dalam rangka workshop penyusunan program kerja guru, Pak Dedi mendatangkan Kusnandar, S.Pd, M.Si, seorang widyaswara di LPMP DKI Jakarta.

Berkaitan dengan guru sebagai profesi maka presentasi beliau membahas tugas dan peranan guru dalam menggapai Guru Profesional. Hal ini disadari bahwa selama ini banyak guru yang terjebak pada “pola rutinitas” yang hanya datang, ngajar, pulang. Padahal dalam konteks pendidikan abd 21 ini, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar (teacher) tetapi beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor) dan manajer belajar (learning manager). Disamping itu untuk tugas guru juga semakin berat terkait dengan portofolio yang harus dibuat dalam rangka sertifikasi yang merupakan bagian dari penilaian terhadap kompeten dan tidaknya sebagai seorang guru. Portofolio yang harus dibuat adalah Silabus, RPP, Program tahunan dan semester, evaluasi dan analisis soal. Ketika semua itu sudah dibuat kemudian diaplikasikan dalam proses pembelajaran di kelas dengan menerapkan prinsip pembelajaran konstektual maka diharapkan 4 tujuan belajar seperti yang direkomendasikan UNESCO dari peserta didik bisa terwujud.

Kesan yang diperoleh dari proses pencerahan ini yaitu komunikatif, konstruktif dan inspiratif. Terjadi komunikasi aktif dua arah antara beliau dan kami karena terkadang cakupan bahasanya melebar pada persoalan-persoalan riil yang kami hadapi di lapangan. Jawaban beliau sangat konstruktif sekali dalam membangun kesadaran bahwa proses pembelajaran itu harus komprehensif artinya ada banyak aspek yang terlibat di dalamnya. Apalagi kalau dikaitkan dengan 8 standar pendidikan seperti yang terdapat pada beberapa permendiknas sebagai implementasi dari UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan pengalaman hidupnya yang bergerak dari nol tidak lupa juga beliau menceritakan perjalanan hidupnya dimana disamping menjadi guru juga pernah ngojek sampai kemudian beliau berhasil menempuh pendidikan S2, sekarang jadi widyaswara di LPMP dan calon doctor pendidikan. Sungguh sebuah pencerahan yang inspratif yang bisa dijadikan teladan bagi kita semua. Mudah-mudahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: