Menulis, apa susahnya sich?

Sudah lama gubug ini tidak saya buka sejak pertengahan bulan lalu dan  begitu juga dengan kegiatan blog walking ke rumah-rumah tetangga. Ketidaksempatan membuka blog ini diawali saat disibukan dengan ujian akhir semester dilanjutkan pengisian dan pencetakan KHS kemudian menjadi bagian dari panitia PSB. Dengan hanya mengandalkan akses gratis di sekolah so kesempatan nge”net” hanya bisa dilakukan di sekolah (maklum belum bisa beli modem HDSPA). Beside, kering ide dan miskin krativitas barangkali adalah faktor utama dari tidak bertambahnya tulisan di blog saya ini. Sejujurnya banyak hal yang ingin saya sampaikan terkait berbagai macam isu yang sedang berkembang atau sesuatu yang bisa di jadikan bahan tulisan tetapi terkadang malas untuk memulai sehingga ide tinggalah ide.

Ada ungkapan, Banyak orang yang pandai berpidato tapi sangat sedikit orang yang pandai menulis, demikian juga seorang guru banyak guru yang pandai menjelaskan/menerangkan di depan kelas tapi sangat sedikit guru yang pandai menulis. Suatu kali saya pernah mengikuti kegatan sosialisasi dalam rangka Sayembara penulisan naskah buku pengayaan yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas, bahwa indikasi minimnya kemampuan guru di dalam menulis sangat jelas terlihat pada sangat sedikitnya naskah-naskah yang masuk ke panitia setiap ada kegiatan sayembara , bandingkan dengan jumlah guru yang ada di negeri ini. Kalau kita mau jujur tidak hanya dalam hal menulis saja rendahnya kemampuan guru, tetapi budaya membaca juga setali tiga uang. Padahal kemampuan menulis seseorang sangat dipengaruhi oleh sumber bacaan. Pengetahuan, informasi dan Perbendaharaan kata yang merupakan bahan dalam menulis hanya bisa diperoleh melalui referensi dari sumber bacaan yang kita baca baik buku, majalah, jurnal maupun surat kabar.


Thus, bisa disimpulkan jika minat membaca saja rendah sudah pasti minat dan kemampuan untuk menulis juga rendah (maaf kalau kesimpulan ini salah). Bandingkan dengan negara lain Jepang misalnya, beberapa waktu yang lalu pernah seorang mahasiswa yang sedang menempuh S2 di sana datang dan berbagi pengalaman dengan guru-guru di sekolah saya. Ada satu hal yang menarik dari cerita beliau bahwa kebiasaan orang Jepang pada saat-saat seperti di Stasiun, di Kereta, di halte selalu menyempatkan untuk membaca meskipun hanya komik. Begitu pula dengan kebiasaan menulis, umumnya sudah diberikan sejak pendidikan dasar. Hasilnya bisa dinikmati oleh anak-anak kita melalui film-film kartun yang ditayangkan di TV Nasional dimana hampir 90% merupakan film kartun yang diproduksi oleh televisi Jepang sebagai visualisasi dari komik seperti Detektif Conan, Naruto, Dora Emon dsb.

Bagaimana dengan negara kita?

Terkait hal di atas sebenarnya Depdiknas melalui instansi vertikalnya sering menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan menumbuhkan minat menulis dan membaca seperti Sayembara Penulisan Buku Pengayaan (fiksi maupun Non fiksi), bulan Bahasa setiap bulan Oktober sampai gerakan Gemar Membaca. Yang menjadi pertanyaan apakah menulis itu memerlukan keahlian khusus atau pendidikan khusus? apakah menulis itu sebuah seni atau pengetahuan?

Jawabanya untuk masing-masing pertanyaan bisa kedua-duanya, maksud saya menulis memang memerlukan keahlian khusus yang diperoleh melalui proses panjang dengan latihan. Sedangkan apakah perlu mengikuti pendidikan khusus untuk bisa menulis? jawabanya bisa iya bisa tidak. Seorang wartawan/jurnalis pasti sebelumya pernah mengukuti pendidikan jurnalistik meskipun latar belakang pendidikannya bermacam-macam. Seorang penulis sastra tidak mesti seorang sarjana sastra tetapi bisa sipa saja yang diberi kelebihan berupa kemampuan mengeplorasi daya imaginasinya kedalam bentuk tulisan sehingga terciptalah puisi, esai, prosa, cerpen, novel dll. Apakah menulis itu suatu seni atau pengetahuan? untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca tentunya memerlukan suatu seni tersendiri dan tentunya apa yang akan kita tulis adalah sesuatu yang kita ketahui dan kuasai (ilmu).

Menulis, bisa dikatakan gampang-gampang susah. Nampak gampang karena menulis bukan pekerjaan yang berat dan dikatakan susah karena memerlukan kemampuan menuangkan ide menjadi rangkaian kata dan kalimat yang memiliki arti dan mengandung maksud/tujuan disamping keuletan dan konsentrasi. Tips menulis yang baik bisa kita baca dari teman-teman bloger dan situs penerbit seperti Riza Almanfaluthi yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), Jarar Siahaan, Penerbit Escaeva, Situs kerja keras dan masih banyak yang lainnya. Mari kita mencoba untuk berani mengungkapkan ide dan gagasan kita melalui tulisan dan blog adalah salah satu media yang bisa kita gunakan untuk menggali potensi kita.

Ditulis dalam Opini Pribadi. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Menulis, apa susahnya sich?”

  1. dedidwitagama Says:

    Nice posting, keep writing😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: