Pemimpin Yang Membumi

Menarik membaca tulisan sequel pak Deni tentang pemimpin, beliau mengungkapan kerinduan atas figur pemimpin yang didambakannya sampai kriteria – kriteri yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin. Kerinduan beliau dirasakan oleh semua masyarakat terkait kondisi negeri ini yang belum juga mampu keluar dari krisis berkepanjangan tidak hanya bidang ekonomi, politik juga kepemimpinan. Diskursus soal kepemimpinan telah menjadi wacana yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini terutama menjelang pemilu presiden 2009. Banyaknya figur dari kalangan tua yang siap memperebutkan RI 1, menjadi keprihatinan kalangan muda. Mereka beranggapan bahwa selama 60 tahun lebih negeri ini dipimpin kalangan tua ternyata kondisi Republik ini jauh dari harapan yang dicita-citakan pendiri bangsa. Oleh karena itu kini saatnya yang muda tampil untuk menjadi lokomotif perubahan karena sesungguhnya sejarah membuktikan perubahan di negeri ini di awali oleh kaum muda. Di sisi lain kaum tua merasa, kaum muda belum memiliki kemampuan dan pengalaman dalam memimpin Republik ini.


Kepemimpinan bukanlah suatu posisi atau jabatan melainkan tindakan (Donald H Mac Gannon), itu artinya bahwa pemimpin yang berhasil dilihat pada tindakan yang telah dilakukan olehnya dalam upaya mensejahterakan rakyatnya/orang yang dipimpinnya. Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia sebenarnanya telah lahir pemimpin-pemimpin besar yang membawa perubahan besar terhadap masyarakatnya baik dalam konteks keagamaan (para Rasul/Nabi) seperti Nabu muhammad SAW bagi umat Islam, Sidarta Gautama bagi umat Budha, maupun dalam konteks kenegaraan seperti Mahatma Gandhi dan Nehru di India, Nelson Mandela di Afrika Selatan, Evo morales di Bolovia dan banyak pemimpin di belahan dunia lain yang kepemimpinannya masih dikenang sepanjang masa. Negeri ini sebenarnya juga pernah melahirkan para pemimpin yang keteladannya bisa kita jadikan panutan, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dll.

Pemimpin yang besar tidak lahir begitu saja, tetapi melalui proses penempaan yang panjang. Pemimpin yang besar akan selalu dikenang sampai kapanpun karena keberhasilannya dalam meningkatkan derajat dan martabat orang yang dipimpinnya. Menjadi Pemimpin tidak harus dalam kedudukannya sebagai Presiden, Gubernur, Bupati yang dipilih langsung atau pemimpin formal lainnya karena penunjukan seperti Kepala Dinas, Dirjen, Kepala Sekolah dll tetapi bisa juga kepala rumah tangga, ibu rumah tangga bahkan diri kita sendiri bisa dikatakan pemimpin (lihat tulisan pak Deni di sini). Karena pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya kelak, maka jabatan/kedudukan pemimpin haruslah dianggap sebagai suatu amanah. Seorang pemimpin yang dapat menjalankan amanah dari dari orang yang dipimpinnya (rakyat, bawahan, anggota) akan dicintai dan dikenang sepanjang masa. Dalam refleksinya, seorang pakar filsafat mengajukan lima persyaratan sebagai pemimpin yang amanah.

  1. Pemimpin harus mampu berfikir bagaimana mengatasi permasalahan yang ada. Sebuah institusi/lembaga pasti memiliki permasalahan baik besar maupun kecil yang mau tidak mau harus dihadapi dan diatasi. Dalam konteks sebuah negara, jelas permasalahannya yang dihadapi lebih besar dan melampaui bidang-bidang sektoral yang spesifik spt kemiskinan, pendidikan, perekonomian, keamanan dll.
  2. Pemimpin harus mampu mengatasi Ceteris Paribus yaitu cara berfikir yang sempit. Kedalaman, keluasan dan kepekaan pemimpin tidak selalu identik dengan kepandaian akademik dan ilmiah. Namun, penguasaan permasalahan dan pengambilan kebijakan yang berpihak pada orang yang dipimpinnya merupakan syarat mutlak.
  3. Pemimpin harus dapat menjadi penjaga amanah melalui kebijakan yang berpihak pada orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang amanah, kebijakan yang berpihak pada orang yang dipimpinnya adalah amanah yang harus diutamakan. Bukan kebijakan yang hanya menguntungkan pribadai, keluarga atau golongan.
  4. Pemimpin harus memahami sepenuhnya bahwa kekuasaan yang diembannya bersifat sementara
  5. dan jabatan adalah amanah sehingga segala tindakan yang dilakukan merupakan afirmatif bagi kepentingan orang yang dipimpinnya.
  6. Pemimpin harus mampu mengubah keempat syarat itu menjadi suatu tindakan nyata sehingga berbagai kegiatan yang dilakukan setiap hari itu senantiasa berorientasi pada peningkatan kesejahteraan orang yang dipimpinnya, Sehingga terbentuk sebuah institusi/lembaga/negara yang kredibel.

Terkait kriteria pemimpin yang baik, amanah bukan satu-satunya ukuruan karena masih banyak kriteria yang bisa menjadikan seorang pemimpin dikenang sepanjang masa. Sikap Jujur, yang tercermin pada integritas moral dalam perilaku dan ucapanya shg menjadikan seorang pemimpin tidak mudah mengobral janji dan senantiasa bersungguh-sunguh dlm bekerja demi kemakmuran masyarakatnya. Sikap visioner seorang pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan dalam mewujudkan cita-cita bersama. Dan tentu saja perlunya capability dalam menggerakan dan mensinergikan semua sumber daya yang ada demi kesejahteraan orang yang dipimpinnya dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Ditengah kerinduan kita pada figur pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya, terbentang harapan akan kehadiran pemimpin baru yang sejati. Pemimpin sejati akan lahir dari masyarakat yang mampu berbuat dan banyak bekerja dengan dilandasi sikap amanah, sidiq, fathonah dan tabligh. Keberhasilan dan keteladannya niscaya menjadi kenangan yang tak terlupkan bagi masyaraktnya sepanjang masa.

2 Tanggapan to “Pemimpin Yang Membumi”

  1. Kusdiyono Says:

    Saya pribadi…ingin yang baru, jangan yang ada sekarang, misal Prof.DR.Jimly Assidiqi (Ketua MK). Setuju gak ??

  2. Pe'es Says:

    Ambil saja indikator sederhana untuk melihat pemimpin yang sebenarnya: dia rela hartanya habis dipakai untuk kepentingan rakyat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: