Sisi Lain Jogjakarta

 SebagaiDSCI0240 salah satu tujuan wisata baik domestik maupun internasional, Pemda Jogjakarta berusaha menjadikan pariwisata ini sebagai sumber pendapatan yang tidak saja masuk kas daerah tetapi juga pendapatan masyarakat. Geliat perekonomian rakyat yang ditimbulkan oleh pariwisata ini bisa dilihat dari aktivitas industri baik yang sifatnya rumahan (home industri) maupun industri yang besar, Hotel dengan berbagai kelas, sampai para pedagang apakah yang menempati kios-kios atau hanya sekedar menggelar barang dagangannya di trotoar. Hal ini bisa kita lihat bahwa oleh-oleh khas jogja seperti Bakpia, batik, kaos Dagadu yg terkenal itu, ataupun asesoris berasal dari industri rumah tangga. Sentra-sentra industri ini bisa kita jumpai dibeberapa tempat di Jogja. Sektor informal yang juga mendapatkan berkah dari pariwisata ini yaitu para PKL, dan juga penarik becak.


Khusus para penarik becak, sealin mereka berkumpul di pusat-pusat keramaian spt Jl. Marlioboro, diantara Mereka juga berkumpul di sekitar Hotel tempat menginap wisatawan, kemudian menawarkan jasa yang akan membawa kita ke tempat-tempat yang kita inginkan. Tapi biasanya mereka menawarkan tempat-tempat pusat home industri pembuatan bakpia, batik maupun dagadu. Selidik punya selidik ternyata ada simbiosis mutualisme diantara mereka, jika wisatawan yang dibawa oleh para penarik becak ini belanja maka mereka mendapat tips/komisi dari para pengrajin/pengusaha tsb ya saling menguntungkan…. Selain itu,para penarik becak ini bukan hanya warga jogja dan sekitarnya tetapi juga ada yg berasal dari Jawa Timur. Hal yang sama juga berlaku pada para pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang kiri dan kanan Jl. Marliobor. Memang selalu berlaku hukum ada gula ada semut, bila suatu daerah menjajikan secara ekonomi maka sudah pasti banyak orang yang datang. Demikian juga dengan Jogjakarta…………….

Ketika pergi ke Jogja kemarin, saya sempat berkeliling pusat Jogja dDSCI0235i malam hari dengan menggunakan jasa abang becak. Sambil mengayuh, kami ngobrol seputar Jogja dan pribadinya. Beliau berasal Bantul  tetapiaslinya ternyata dari Kediri. Saya di bawa ke pusat Batik dan Dagadu serta singgah di alun-alun utara sambil mencoba berjalan melewati gerbang yang diapit 2 pohon beringin sambil ditutup mata. Ternyata 3 x mencoba, saya nda berhasil melewati jalan tengah gerbang. Demkian juga 2 teman yang lain. Kalau dihubungkan dengan klenik, orang yang belum berhasil melewati jalur tengah pintu gerbang katanya masih hatinya kotor, banyak dosanya. percaya atau nda tergantung kita masing-masing. Banyak sisi lain yang bisa kita ambil /dapat dari Jogjakarta….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: