UN dan Segala Persoalannya

Ditengah perdebatan yang masih hangat tentang perlu tidaknya Ujian Nasional dilaksanakan sebagai parameter lulus dan tidaknya siswa (berdasarkan kriteria kelulusan tentunya), hari ini memasuki hari terakhir pelaksanaannya. Pro kontra kebijakan Depdiknas ini memang sudah lama menjadi wacana yang tidak pernah berakhir. Pihak yang pro terutama pemerintah dalam hal ini depdiknas nampak yakin bahwa UN sebagai pilihan terbaikkarena dengan standar nilai yang sudah ditentukan maka sekolah tidak main-main dalam mengotak atik nilai sehingga UN betul betul dijadikan sebagai pengendali mutu lulusan. Disamping itu UN juga menjadi salah satu cara untuk menilai apakah standar standar nasional yang dibuat BSNP sudah dipenuhi atau tidak. Secara yuridis pihak depdiknas bersandar pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 57 ayat 1 bahwa ” evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan”. Berikutnya pasal 58 ayat 2, “Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lebaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasioanal pendidikan”. Dengan payung hukum tersebut, Depdiknas melalui BSNP dan Puspendik tetap melaksanakan UN bahkan untuk tingkat satuan pendidikan SMA/MA ditambah menjadi 6 bidang studi.

Bagi kalangan yang kontra, bukan tanpa dasar menolak adanya UN ini karena berdasarkan pasal 58 ayat 1 ” Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan”. sepertinya dua pasal tersebut saling bertentangan? nampaknya, inilah nyang harus diberesi agar tidak menimbulkan perbedaan tafsir maupun benturan yang kontra produktif. Terlepas dari pro kontra tentang UN, setiap pelaksanaan UN selalu menyedot perhatian publik terutama media baik cetak maupun elektronik. Pemberitaan media tidak hanya menyoroti masalah pelaksanaan tetapi juga hal-hal yang menyertai seperti yang dimuat di harian Warta Kota bahwa sejumlah siswa mendapat teror SMS.

Sebagai “hajatan” nasional yang pelaksanaan UN ini dari Sabang sampai Merauke dengan melibatkan sumber daya yang sangat besar baik biaya maupun SDM, UN selalu mendapat perhatian intens dari steak holder apakah gubernur, bupati/walikota yang turun langsung ke sekolah melihat pelaksanaan UN bahkan RI 2 rencananya hari ini juga akan memantau. Bagi para pimpinan wilayah, UN (baca tingkat kelulusan) bisa dijadikan sebagai barometer keberhasilan dalam kepemimpinanya terutama dalam meningkatkan Index Human Development (IHD). Hal ini disadari bahwa disparitas pendidikan di tingkat kabupaten/kota dengan kab/kita yang lain masih sangat besar. Bila angka kelulusan di wilayah yang dipimpinya mencapai prosentasi yang tinggi itu artinya dia berhasil meningkatkan IHD-nya tetapi bila sebaliknya berarti dia gagal.

Terlepas dari berbagai kepentingan atas UN ini, UN untuk SMA/SMK/MA sudah selesai dilaksankan dan kita tinggal menunggu hasilnya apakah standar nilai yang di jadikan sebagai kriteria kelulusan bisa tercapai atau tidak. Dan ditengah hiruk pikuk soal UN ini, nampaknya perlu ada jalan tengah, idealnya kelulusan memang oleh sekolah, guru yang paling tahu. Masalahnya bagaimana cara menjamin agar guru-guru benar melaukannya dengan rasa tanggung jawab. Nilai yang tertulis di ijazah harus mencerminkan kompetensi siswa. Tidak perlu merasa ragu untuk tidak meluluskan siswa kalu mereka memang tidak layak, dan siswa menerima kenyataan itu dengan besar jiwa. Menemukan mekanisme yang tepat itulah agaknya yang menjadi pekerjaan rumah raksasa ke depan.

Image :http://www.tofi.or.id/img-news/img_news_1188927056.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: