D2, Sang Pembaru yang Visioner

dedi.jpgSeperti yang sudah saya janjikan disini bahwa saya akan menulis khusus tentang beliau, Pak Dedi Dwitagama dan Postingan ini sebenarnya sudah lama “nongkrong” di draft saya, tetapi karena timingnya kurang tepat terpaksa tidak saya publish. Ide tulisan ini muncul ketika pertengahan Januari lalu ada desas desus bahwa Kepala SMK 3 termasuk salah satu kepala sekolah yang dirolling untuk penyegaran. Dan kembali sekarang ini muncul desas desus bahwa Beliau akan dirolling pasca Ujian. Tulisan ini merupakan bentuk apresiasi saya secara pribadi terhadap beliau atas apa yang sudah diperoleh selama kepemimpinannya. Tidak ada maksud apapun atas tulisan ini, misalnya mempromosikan karena secara pribadi beliau sudah dikenal luas di kalangan dunia pendidikan baik birokrat maupun praktisinya . Tulisan ini hanya sebatas “sekali lagi” apresiasi dan conclusi dari sekian banyak pembicaraan yang beliau lakukan baik dalam konteks formal seperti rapat-rapat maupun obrolan pribadi.

Keberhasilan sebuah institusi biasanya dilandasi oleh 3 faktor yaitu, kerja keras dan saling berkolaborasi semua warganya, komitmen untuk maju, dan pimpinan yang visioner. Dan untuk mencapai tahap keberhasilan yang diinginkan tidaklah mudah karena menyamakan persepsi/visi, mengajak orang untuk maju dan mengubah mentalitas yang sudah mengakar memerlukan kesungguhan dan komitmen yang kuat dari pemimpinnya. Terkadang muncul resistensi atas respon sebuah perubahan yang tidak bisa kita hindari. Tidaklah heran ketika sebuah kebijakan pimpinan dibuat pelaksanaan dilapangan terkadang akan berbenturan dengan bawahan. Untuk kondisi semacam ini tentunya memerlukan gaya kepemimpinan yang dapat mendorong perubahan menuju pada keberhasilan. Mengutip tulisanya Yohannes Surya pada harian Media Indonesia , hukum/fenomena Newton (3 hukum gerak) dapat digambarkan dalam merumuskan konsep kepemimpinan.

hukum gerak yang pertama, benda cenderung mempertahankan keadaannya (malas berubah) jika tidak ada yang mengganggunya.

  • hukum yang kedua, benda bisa berubah bila mendapatkan gaya.

  • hukum yang ketiga, benda yang mendapatkan gaya aksi akan memberikan gaya reaksi yang besarnya sama dengan gaya aksi yang diberikan.

  • Konsep kepemimpinan yang mengacu pada hukum newton yang pertama memiliki ciri pemimpin hanya berfikir bahwa yang penting kedudukannya aman, suasana institusi kondusif sehingga dia tidak berani melakukan perubahan sehingga cenderung malas miskin kreasi dan inovasi. Sehingga jalannya institusi hanya melanjutkan kebiasaan yang lama. Padahal untuk menjadikan sebuah institusi ini berkembang dan maju perlu keberanian dari seorang pemimpin untuk melakukan sebuah perubahan.

    Hukum Newton yang kedua menggambarkan bahwa sebuah institusi/organisasi membutuhkan pemimpin yang tegas, keras mempunyai visi jelas dan terukur serta mempunyai daya dobrak. Visi menjadi suatu faktor pendorong untuk mempercepat kemajuan institusi. Hukum Newton yang kedua inilah yang melekat pada sosok seorang pemimpin yang bernama Dedi Dwitagama, dan pola ini yang dikembangkan di SMK 3 Jakarta dibawah kepemimpinannya. Menikmati keberhasilan seperti yang ditulis disini, merupakan buah dari konsep kepemimpinan yang dikembangkan oleh beliau. Sebagai kepala sekolah, beliau memahami betul fungsinya yang dikenal dengan istilah EMAS (eksekutif, manager, administrator dan supervisor) dan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS). Sebagai pemimpin, visinya begitu jauh ke depan. Beliau menyadari betul bahwa SMK sebagai satuan pendidikan yang diharapkan bisa menghasilkan tenaga kerja berkualitas harus didukung sarana dan prasarana yang memadai dan sesuai dengan tuntutan jaman. Berkat pergaulan yang supel dan kemampuan lobynya, 3 tahun kepemimpinan beliau sarana praktek untuk 3 jurusan sekarang ini sudah terpenuhi. Dan Satu perubahan yang sangat fundamental adalah keterlibatan semua warga sekolah dalam setiap event/kegiatan tanpa membeda-bedakan apakah PNS, PTT atau Honorer. Beliau tidak meng”anak emas”kan atau mempercayakan seseorang sebagai tangan kanan” atas kebijakan – kebijakan sekolah.

    Demikian juga dalam hal peningkatan kualitas keilmuan dan pengetahuan para gurunya, beliau tidak segan–segan mendatangkan pakar-pakar untuk meng up to date warga sekolah dan semuanya diberi kesempatan yang sama dan didorong untuk berkembang bagi mau. Beliau menyadari betul bahwa profesionalime guru bisa terwujud jika guru mampu mengembangkan kompetensinya secara terus menerus.

    Pergaulannya yang supel dan kemampuan intelektual yang memadai (sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di UNJ), tenaga beliau banyak digunakan oleh instansi-insatansi tidak hanya di lingkungan dinas Dikmenti tetapi juga Depdiknas seperti Pusat Kurikulum. Dari keterlibatan tersebut, beliau kemudian merekomendasikan rekan-rekan guru untuk bisa terlibat juga dalam kegiatan tersebut. Beberapa rekan yang tenaganya sudah dimanfaatkan oleh Pusat Kurikulum sebagai team monitoring dan evaluasi KTSP ke beberapa propinsi yaitu Pak H.Bustamam ke NTT dan Bu Pormina ke Sumbar. Dengan latar belakang beliau yang aktif dalam sebuah LSM, beliau faham betul arti pentingnya sebuah pencitraan. Dan untuk membangun citra memerlukan waktu dan konsistensi. Itulah yang ditunjukan beliau di masa kepemimpinannya di SMK 3 Jakarta sekarang ini. Satu hal yang dapat saya ambil dari Beliau adalah sikap tidak mudah puas atas sebuah pencapaian dan juga tidak mudah menyerah. Beliau sangat tidak suka ketika sebuah tantangan/pekerjaan yang harus dilakukan oleh anak buahnya kemudian direspon negatif dengan alasan-alasan yang menurut beliau tidak bisa diterima. Mengikuti speednya yang cepat kadang-kadang kita merasa lelah tetapi di balik itu sesungguhnya begitu banyak nilai tambah yang bisa kami peroleh.

    Sebagai bagian dari warga SMK 3 saya cukup bangga melihat perubahan yang terjadi . Terpenuhinya sarana dan prasarana praktek merupakan hasil yang bisa dirasakan saat ini. Namun demikian Ibarat pepatah tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Bahwa kita masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Citra positif dari luar janganlah membuat takabur dan lupa diri, yang terpenting dan menjadi tugas pokok dari sebuah lembaga pendidikan adalah bagaimana out put yang dihasilkan menjadi manusia-manusia yang unggul baik hardskill maupun softskillnya. Mudah-mudahan visi “SIAPKAN TENAGA KERJA BERMUTU” bisa terwujud. Beliau sudah meletakan dasar yang kuat dalam pemberdayaaan warga sekolah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita semua. Amiin.

    3 Tanggapan to “D2, Sang Pembaru yang Visioner”

    1. Dedi Dwitagama Says:

      Wow … beta tersanjung amat sangat … semua hasil yang kita capai tak kan terwujud jika kerjasama guru (termasuk Pak Hary), karyawan dan stakeholder lainnya tak bagus … trm ksh, smg Allah limpahkan kesehatan buat Anda dan keluarga … mari terus berjuang saudaraku

    2. Digosipin TERUUUUS « Principal & Trainer 2nd Ed Says:

      […] kepindahan Saya  bergulir dari mulut ke mulut  makin deras  ….  digosipin teruuuuuus, Pak Harry menulis  di blognya  Saya akan  bergerak setelah ujian  …  ha ha ha, sementara  Saya  […]

    3. triwinzas Says:

      mas ajarin bwt blog kya mas dunk,saya tertarik bgt sama tulisan ma tampilan blognya


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: