Sudah Bersyukurkah Kita ?

Sudah menjadi sifat manusia bahwa ketika dia sedang berada dalam kebahagiaan seperti diberi kekayaan yang berlimpah, sukses dalam karir/pekerjaan, bisnis yang dijalankan maju pesat maka dia lupa bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah sehingga banyak manusia terlena dan lupa akan kewajibannya. Lain halnya ketika sedang terpuruk maka dia akan mendekat pada Tuhannya memohon dan berdoa agar terlepas dari segala penderitaan. Padahal, satu hal yang sering dilupakan oleh banayak manusia bahwa segala sesuatu yang dimiliki, dirasakan dan diterima merupakan nikmat dari Allah SWT. Pertanyaanya adalah sudahkah manusia bersyukur atas semua nikmat yang diperolehnya?


Bersyukur merupakan konsekuensi dari kita sebagai manusia hamba Allah yang telah diberi begitu banyak kenikmatan sesuai firman Allah:

Dan niscaya sungguh Allah telah memuliakan anak turun Adam, dan Allah memuat mereka di daratan maupun di lautan kemudian Allah mencurahkan rezeki kepada mereka dari yang halal/baik dan sungguh Allah memberi keutamaan kepada manusia mengungguli kebanyakan makhluk yang Allah ciptakan (QS Al Isra; 70).

Saking banyaknya kenikmatan yang kita terima, maka kita tidak mampu untuk menghitungnya.

Seandainya kalian manusia berusaha menghitung (nilai) nikmat Allah niscaya kalian tidak mampu menghitungnya…… (QS Ibrahim;134).

Banyaknya nikmat yang Allah berikan dan limpahkan ini, seharusnya membuat manusia bahagia dalam hidup di dunia. Namun kenyataan yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, ternyata kebahagian bukanlah hal yang mudah didapat. Kita sering menyaksikan orang-orang yang merasa pusing dan susah karena kekurangan uang. Di sisi lain tidak jarang kita jumpai orang yang mengalami stress dan cemas karena kebanyakan uang. Namun kita juga melihat ada orang yang bisa lebih bahagia duduk di atas gerobak. Mereka adalah para pemulung yang hanya mendapatkan uang dari barang-barang bekas yang kemudian dijual ke pengumpul. Uang tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya siang itu dan malam nanti. Mereka tidak menyibukan hidupnya dengan mengenang masa lalu dan tidak cemas dengan bayang-bayang masa depan. Mereka menikmati apa yang mereka peroleh dan dapat mereka nikmati pada hari itu. Ternyata mereka lebih merasakan kebahagiaan. Mereka adalah orang-orang yang diberi anugerah oleh Allah rasa bahagia dengan menikmati hidup apa adanya.

Banyaknya aksesori duniawi seperti harta, kedudukan, kkuasaan, gelar, popularitas, ketampanan atau kecantikan dan berbagai macam kesuksesan ternyata tidak menjamin ketentraman, kenikmatan dan kebahagiaan. Sebagian orang mengukur kebahagiaan dengan banyaknya nikmat yang didapat. Itulah sebabnya hidup ini menjadi sulit untuk bahagia, hati selalu terombang-ambing dengan perasaan was-was, takut, cemas, gelisah, bingung, tegang, pening dan sebagainya. Sehebat apapun keinginan untuk menikmati kebahagiaan hidup, bila tidak mengetahui kuncinya maka kebahagiaan hanya akan ada dalam angan-angan saja. Kalaupun merasa mendapat kebahagiaan, sesungguhnya hanya semu belaka. Bagai mengejar bayang-bayang yang tidak pernah terbayang.

Sebenarnya apakah kunci kebahagiaan tersebut?

Bersyukur, itulah jawabanya. Artinya, siapapun yang tidak mengetahui cara mensyukuri nikmat dengan benar, maka tipislah harapan dapat menikmati hidup dengan benar pula. Dapat menikmati hidup dengan benar itulah kebahagiaan yang sejati. Hidup ini terlalu singkat untuk merasa kecewa, sedih, murung atau perilaku lain yang tidak bermanfaat apa lagi sampai melakukan perbuatan yang tidak diridloi Allah SWT. Bersyukur merupakan perintah Allah sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman dalam Alqur’an :

Karena itu ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kalian kepada-Ku, dan jangan mengingkari (nikmat)-Ku.(QS Al Baqarah;152) diayat lain Allah berfirman:

…bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS Al baqarah; 172)

Dua ayat di atas secara jelas menerangkan bahwa kita (manusia) yang merupakan hamba Allah yang paling mulia punya kewajiban untuk mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan. Bersyukur tidak mesti harus dilakukan saat kita diberi rizqi/harta yang berlimpah saja, paras yang tampan/cantik, kedudukan yang tinggi tetapi juga sebaliknya karena sesungguhnya Allah sudah mengatur pembagianya kepada setiap manusia sehingga terwujud suatu keseimbangan. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat ada orang yang kaya tetapi juga ada yang miskin, ada yang cantik/tampan tetapi juga ada yang biasa-biasa saja, ada yang sukses tetapi juga ada yang gagal. Semua itu sudah menjadi ketentuan dari Allah (Qodarullah). Tinggal bagaimana manusia mensikapinya. Meskipun demikian, ternyata kebanyakan manusia yang diberikan kelebihan dan keutamaan malah melupakan kewajibannya untuk bersyukur. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

Sesunguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Albaqarah ; 243)

Dan niscaya sesungguhnya Allah telah menempatkan kalian manusia di bumi dan Kami jadikan di mika bumi itu (sumber)penghidupan. Amat sedikitlah dari kalian yang bersyukur (QS Al A’raf ; 10).

Disamping itu sudah menjadi janji iblis untuk memalingkan manusia dari Tuhannya sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an :

Iblis berkata, berilah kesempatan padaku sampai hari manusia dibangkitkan. Allah berfirman kamu saya beri kesempatan. Lalu Iblis berkata lagi, sebab engkau (Allah) telah menyesatkan pepadaku maka aku akan duduk dijalanMu yang benar untuk mempengaruhi mereka (anak turun Adam) kemudian akan aku pengaruhi dari depan, belakang, kanan, kiri mereka dan akhirnya Engkau (Allah) tidak menjumpai kebanyakan mereka (manusia) orang yang bersyukur (QS Al A’raf : 14 – 17)

Pengaruh Iblis ini dilakukannya dengan cara mengendalikan hawa nafsu manusia menuju kepada kepentingan Iblis. Ketika nafsu ini sudah dikendalikan Iblis, maka terjadi kecenderungan pada manusia untuk selalu melanggar menuruti hawa nafsu dan selalu mencar “pembenar” terhadap pelanggaran yang dilakukannya. Bahkan pikiran yang yang sudah dikuasai nafsu, barpun dia tahu bahwa dia melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, pikiran yang sudah dikuasai nafsu itu selalu mencoba untuk membelanya dan membenarkan tindakaannya yang menyimpang dari kebenaran tsb. Sehingga yang terjadi adalah mereka yang sudah berkecukupan dengan harta kekayaannya merasa belum cukup atau belum puas dan berusaha menambah kekayaannya meski dengan cara-cara yang tidak benar/halal. Orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan, dengan kewenangan yang dimilikinya berusaha menindas atau membuat kebijakan yang lebih menguntungkan dirinya. Mestinya hiduplah dengan menerima kenyataan apa adanya. Bersykurlah pada apapun yang diberikan Allah meskipun sedikit, kecil, tanpa harus kecewa dan keluh kesah. Kemudian berikhtiarlah lebih sungguh-sungguh lagi dengan hati yang lapang. Tentu Allah tidak akan mengecewakan hambanya yang ahli bersykur.

Karena bersyukur itu memberikan 3 manfaat :
1. Mendapatkan Ridlo dari Allah, berdasarkan firman Allah ;

Jika kalian (manusia) bersyukur, maka Allah akan senang (ridlo) pada kalian.

2. Terhindar dari siksa Allah, berdasarkan firman Allah ;

Allah tidak akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman, Allah maha bersyukur dan maha mengetahui (QS Anisa ; 147)

3. Bertambah nikmat, sesuai janji Allah ;

Seandainya kalian bersyukur pasti Aku (Allah) menambah nikmat pada kalian dan seandainya kalian kufur (atas nikmat-Ku) sesungguhnya siksaKu amat berat (QS Ibrahim ; 7)

Tahun 2007 sudah kita tinggalkan dengan segala romantikanya. Prestasi, kesuksesan, sehat jasmani dan rohani, rezeki yang bertambah itu semua merupakan nikmat dari Allah yang harus kita syukuri sehingga di tahun 2008 ini kita berharap memperoleh yang lebih baik lagi. Demikian pula jika diberi nikmat lebih, baik berupa ilmu, kedudukan, kekuasaan, keahlian, kemampuan hendaknya dapat memanfaatkannya untuk kemaslahatan bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya agar mendapat ridlo dari Allah. Karena hakikat bersyukur adalah menikmati apa yang telah Allah berikan kemudian memanfaatkannya pada jalan yang Allah ridloi.

SELAMAT TAHUN BARU 2008.

image : http://globalrecordings.net/images/avs/lll6-05.jpg

Ditulis dalam Religi. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Sudah Bersyukurkah Kita ?”

  1. Parjono Says:

    Mudah2an kita dijadikan orang2 yang selalu bersyukur!

  2. fajaws Says:

    salam pak hary. masih ingat saya kan?
    nice posting dan sangat mencerahkan.

    fajar wahyu (malang)
    masih to mas, piye kabare? salam buat mas Azhar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: