Suatu hari di kantor Pegadaian.

Suatu hari dengan tidak sengaja saya pergi ke Kantor Pegadaian. Maksud kedatangan saya bukan untuk menggadaikan barang tetapi hanya ingin bertemu dengan seorang teman lama (teman SMA) yang kebetulan bekerja di kantor tsb. Karena tidak ada janji terlebih dahulu maka saya menunggu di ruang depan yg biasa digunakan untuk transaksi gadai menggadai antara orang/masayrakat dengan petugas. Saya mengambil tempat duduk yg kebetulan masih kosong di samping seorang wanita separuh baya. Setelah mengucapkan permisi maka duduklah saya. Ibu tua itu rupanya sedang menunggu giliran dari petugas yg sedang mengkalkulasi harga atas barang yang digadaikannya. Dari pada bengong iseng-iseng saya bertanya untuk memulai percakapan.

Saya : Maaf ya bu, Ibu sedang menunggu seseorang atau lagi nunggu giliran?

Ibu tua : Saya sedang menunggu giliran.

Saya : Lho memangnya Ibu menggadaikan apa?

Ibu tua : TV.

Saya : Berapa inchi bud an untuk keperluan apa? (seperti penyidik saja)

Ibu tua : Biasalah mas, kalau tahun ajaran baru ini keperluan anak sekolah kan banyak. Ada daftar ulang, beli buku pelajaran, yah pokoknya macam-macam keperluan sekolah. TV-nya kecil Cuma 21 inchi, inipun boleh ngredit.

Saya : Anak ibu yang sekolah berapa?

Ibu tua : 2, satu di SMP dan satunya di SD

Saya : Baru masuk sekolah atau naik kelas bu?

Ibu tua : Yang di SMP naik kelas 2 sedangkan yang satunya baru masuk SD.

Saya : Bukanya di SMP gratis, kan pemerintah sudah mengeluarkan peraturan bahwa untuk SD dan SMP itu gratis. Kalau SLTA memang belum ada peraturannya.

Ibu tua : memang sih kalau iuran sudah tidak ada, tetapi buku-buku kan mesti harus beli, belum minta tas baru dan sepatu baru. Jumlahnya sebesar…(ibu tua itu menyebutkan nilai nominalnya)

Saya : kalau boleh tahu, memang pekerjaan suami ibu apa? Koq sampai harus menggadaikan TV-nya? Nanti hiburan untuk anak-anak apa? (saya mencoba menyelidiki)

Ibu tua : ngojek mas, mas tahu sendiri. Sekarang cari uang susah! Apa lagi tukang ojek, kadang sehari Cuma dapat 15 ribu. Apalagi sekarang ini motor banyak banget jarang orang naik ojek sudah pada punya motor masing-masing. (ibu itu beranjak karena namanya dipanggil oleh petugas)

Saya : (dalam hati bisa apa uang sebesar itu) dihargai berapa Bu TVnya.

Cuma 600.000,- tiga bulan saya harus nebus lagi.

Ibu tua : sudah mas saya mau langsung ke pasar.

Saya : oh ya bu silahkan. Hati-hati yach.

Memang tidak semua orang diberi kemudahan dan keluasan dalam mencari rizqi, masih banyak di sekitar kita yang kehidupannya seperti ibu tua tadi. Tidak ada dalam benak mereka sedikitpun untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi selagi untuk kehidupan sehari-hari saja memprihatinkan.

Jakarta, 12 Juli 2007

9 Tanggapan to “Suatu hari di kantor Pegadaian.”

  1. Willy Ediyanto Says:

    Pendidikan itu mahal? Baju seragam harus baru. Anak memaksa harus pepatu baru. Buku tulis, anakminta yang baru. Kalau seragam sekolah pakai yang sudah usang, apa anak ya masih mau? Apa enggak malu sama kawan-kawannya?
    Pengaturan waktu dengan menabung mungkin perlu dilakukan. Ap seragam juga harus diberi oleh pemerintah?
    Seragam sekolah baru menurut saya wajar, asal jangan dipaksa harus beli di sekolah. Lagian buat apa sih repot-repot ngurusin baju?
    Tapi ada juga lho orang tua yang enggak mau repot ngurusi baju sendiri. Enak kalau dikelola sekolah, katanya.
    Jadi enaknya seperti apa ya? Kalau seragam diadakan oleh pemerintah nanti kasusnya seperti beras bulog untuk PNS dulu. Hueek!

  2. harysmk3 Says:

    terima kasih Pak sudah mau mampir ke gubug saya he.. he..
    Persoalan pendidikan di indonesia mmg kompleks,
    se kompleks persoalan bangsa kita sendiri.

  3. Deni Triwardana Says:

    Saya trenyuh mendengar pengalamannya, menyentuh banget gitu… good…

  4. anas Says:

    Ahh, sedih, kalau sudah dinyatakan gratis ternyata memang tak sepenuhnya ya.
    Alhamdulillah, di desa nggak seberat ini (bagi saya)

  5. harysmk3 Says:

    # Deni
    mudah2an ke depan pendidikan dr TK – PT
    bisa dinimati oleh semua lapisan masyarakat
    # Anas
    Matur nuwun kang wis mampir di gubugku..

  6. deKing Says:

    Beginilah hasilnya jika pendidikan telah dikomersialisasikan…
    Maaf pihak sekolah dan para guru mbok ya jangan berdagang buku di sekolah…silakan buka saja toko buku.

  7. virusChantiQ Says:

    mas hary koq g bareng belanja temenin ibu tua itu…
    pasti dech… makin nguras air mata lagi..
    mana duit di bawa hanya sekian…
    harga belanjaan selangit nawar-nya susah..
    belum lagi harus pulang bawa makanan buat yang di rumah….

    hiks..hiks jujur banget deh sedih neh…. 😦

  8. rohayadi Says:

    yaa susah katanya sekolah gratiss ternyata pendidikan itu mahallll

  9. by-hq Says:

    hidup dah sulit pendidikan mahal gimn nich ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: