YanG tersisa dari PSB

Tidak terasa bulan Juli sudah setengah perjalanan, Kesibukan PSB dan MOS membuat saya tidak sempat untuk buka internet dan mengunjungi teman-teman. Setiap awal tahun ajaran baru banyak kisah/cerita yang terjadi mengiringi dunia pendidikan kita baik soal pungutan sekolah terhadap siswa baru maupun cerita-cerita lain yg memilukan yang dialami sebagaian masyarakat kita terutama orang tua yang anaknya tidak diterima di sekolah negeri. Posting kali ini merupakan pengalaman yg saya peroleh ketika menjadi panitia PSB di sekolah, dan menjadi potret nyata yg terjadi di tengah masyarakat kita khususnya mereka (kaum marjinal) yang tingkat ekonominya rendah tetapi menginginkan anak-anaknya tetap melanjutkan sekolah minimal SLTA dan bersekolah di sekolah negeri.
Ditengah kebanggaan bisa melaksanakan PSB secara online, ternyata menimbulkan kesedihan pada sebagian orang tua yang anaknya tidak diterima di sekolah negeri karena NUN rendah atau salah memilih jurusan sehingga tersisih dari persaingan. Saat itu hari jumat tanggal 13 Juli 2007, hari terakhir pendaftaran PSB tahap 2. Bangku kosong yang tersedia di SMK kami hanya 15 orang dan sekitar pukul 14.00 saya dowload hasil seleksi sementara ternyata bangku kosong yang 15 orang itu sudah terpenuhi dengan NUN terendah 20,20. Ketika sedang asyik di depan komputer masuklah seorang laki-laki separuh baya kira-kira berumur 50 tahun. Ia nampak lebih tua dari usianya. Saya : Selamt siang Pak? ada yang bisa saya bantu? Bapak tua : saya mau daftarkan anak? Saya : maaf pak, boleh tahu berapa NUN nya? Bapak tua : 19,80. Anak saya tahap pertama sudah ikut tapi tidak diterima. sekarang mau nyoba lg ikut tahap ke 2. kira-kira peluangnya gmn ya pak? Saya : memangnya pada tahap pertama pilih jurusan apa? untuk nilai sebesar itu mestinya anakBapak bisa diterima tetapi jurusannya Penjualan. (saya mencoba memberikan penjelasan) Bapak tua : Anak saya milih jurusan Akuntansi, waktu hari pertama anak saya masih tercantum tapi pas hari terakhirtersisih oleh NUN yg lebih tinggi. Saya : Bapak mestinya langsing daftar lagi begitu nama anak Bapak tidak tercantum di hari kedua, dan milih jurusan penjualan. (mesti sudah terlambat saya mencoba memberi masukan) Bapak tua : saya tidak tahu, saya kira kalau sudah sekali daftar tidak boleh daftar lagi menunggu tahap ke dua kalau tidak diterima ditahap pertama. Saya : sekarang Bapak juga percuma kalau daftar lg, soalnya data terakhir nilai yang paling rendah 20,40. di SMK yang lain juga rata-rata di atas 20. Kalau Bapak tetap mau daftar sebaiknya milih SMK kelompok teknologi (STM) karena ada beberapa jurusan yang nilai terendahnya di bawah NUN anak Bapak, Bgmn? Bapak tua : itulah persoalannya pak, anak saya perempuan maunya ke SMK Bisnis dan Manajemen. tolong dong pak? (bapak tua itu mencoba meminta belas kasih)
Saya : maaf pak, jangankan saya yang hanya operator, Kepala Sekolah saja tidak bisa berbuat apa-apa. soalnya sistemnya on line dan data semua masuk ke server yang ada di dikmenti, kami tahunya sudah jadi. begini saja pak, (mencoba memberi saran) Bapak beli formulir di SMK swasta saja, karena kalau mengharapkan di sekolah negeri sudah tidak mungkin Bapak tua : Saya cuma sopir Bajaj pak, tidak sanggup kalau menyekolahkan di swasta. Uang pertamanya saja 2,5 jutauang dari mana? untuk sehari-hari saja pas-pasan. kalau di sekolah negeri kan bisa minta keringanan. (Bapak tua itu mencoba memberikan argumen) Saya : Bagamana lagi ya Pak, saya nda bisa bantu, prosedurnya memang seperti itu. Maaf ya Pak? Bapak tua : ya sudah bagamana lagi? tahun ini nganggur dulu biar tahun depan ikut lagi. (bapak tua itu langsung pamit)

Demikianlah sekelumit perbincangan saya dengan orang tua siswa yang berharap anaknya bisa masuk sekolah negeri tapi karena nilainya di bawah standar terendah akhirnya tidak bisa diterima. pupuslah harapan orang tua tersebet untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi, keterbatasan ekonomi dengan terpaksa mengistirahatkan dulu anaknya selama satu tahun dan berharap tahun depan bisa diterima di sekolah negeri. Masuk sekolah swasta di Jakarta harus merogoh kocek lebih dalam. Dengan profesi sopir bajaj apa sanggup menyekolahkan di swasta.

Pendidikan belum sepenuhnya dapat menyentuh semua lapisan masyarakat, kenyataannya kaum-kaum marjinal yang ada di perkotaaan banyak yang tidak sanggup menyekolahkan anak-anaknya. Kapan bangsa ini bisa memberikan pendidikan gratis bagi warga negaranya? Walluhu ‘alam bisshawab.

4 Tanggapan to “YanG tersisa dari PSB”

  1. deking Says:

    Bapak tua : saya tidak tahu, saya kira kalau sudah sekali daftar tidak boleh daftar lagi menunggu tahap ke dua kalau tidak diterima ditahap pertama.

    Hal tsb karena bapak tsb (dan juga anak beliau) tidak tahu aturan yang ada atau karena memang tidak ada sosialisasi mengenai hal tsb?
    Kalau memang sang bapak yg tidak tahu sih masih bisa dimaklumi tapi kalu ternyata tidak ada sosialisasi “aturan main” PSB maka alangkah kasihannya sang bapak (dan anak) yang menjadi korban ketidakjelasan aturan kita.

    Bapak tua : Saya cuma sopir Bajaj pak, tidak sanggup kalau menyekolahkan di swasta. Uang pertamanya saja 2,5 jutauang dari mana? untuk sehari-hari saja pas-pasan. kalau di sekolah negeri kan bisa minta keringanan.

    Duh gusti apakah memang orang-orang yang (maaf) kurang mampu tidak boleh sekolah?
    Apalagi sekarang banyak perguruan tinggi negeri yang memproklamirkan diri menjadi universitas berbadan hukum (alias “swasta”). Perubahan status ini jelas berimbas pada naiknya biaya kuliah

  2. deking Says:

    hehehe maaf kebanyakan kata “tsb”, semoga tidak membingungkan😀
    BTW berarti Kang Harry ora kondur Cilacap ya Kang? Apa isih sempat liburan nang Cilacap?

  3. harysmk3 Says:

    matur nuwun kang nyempatke mampir, ora sempat mulih sibuk te nan?
    Inilah wajah pendidikan Negeri tercinta, belum bisa sepenuhnya mewujudkan tujuan negara “Mencerdaskan kehidupan Bangsa”

  4. dedidwitagama Says:

    Thx telah berbagi …. cerita yang memilukan …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: