Membangun RasaPercaya Diri (bag. terakhir)

(Sebelum membaca tulisan ini sebaiknya anda membaca tulisan ini dahulu)

Dua tulisan terdahulu, dibahas mengenai harga diri (self esteem) sbg sumber dari tumbuhnya rasa percaya diri. Dan pada tulisan terakhir khusus membahas mengenai Rasa Percayadiri

KEPERCAYAAN DIRI (SELF CONFIDENCE)

Percaya diri adalah keberanian yang datang dari kepastian tentang kemampuan, nilai-nilai dan tujuan diri kita. Atau juga bisa didefinisikan sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri alias “sakti”. Rasa percaya diri yang kuat sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tsb dimana dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi actual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Banyak ahli menilai bahwa percaya diri merupakan factor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal.

A. Ciri-ciri Individu yang Percaya Diri.

Beberapa cirri individu yang memiliki rasa percaya diri yang proporsional, diantaranya adalah “

·        Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, ataupun penghormatan orang lain,

·        Tidak terdorong untuk menun jukan sikap konformis (mengorbabnkan hal-hal yang prinsip) demi diterima oleh orang lain/kelompok.

·        Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain 9tidak jatuh mental), berani menjadi diri sendiri.

·        Punya pengendalian diri yang baik, tidak moody dan emosinya stabil,

·        Memiliki Internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapakan bantuan orang lain)

·        Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain dan situasi luar dirinya.

·        Memiliki harapan yang realistic terhadap diri sendiri, shg ketika harapan itu tidak terwujud, dia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

B. Karakteristik Individu yang Kurang Percaya Diri

·        Berusaha menunjukan sikap monformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok.

·        Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan.

·        Sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan diri) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri, namun dilain pihak  memasang harapan yang tidak realistic terhadap diri sendiri.

·        Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negative.

·        Takut gagal, shg menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil.

·        Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus, karena undervalue (memandang rendah) diri sendiri

·        Selalu menempatkan dirinya sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu dan takut.

·        Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangat tergantung pada keadaan dan penerimaan/pengakuan serta bantuan orang lain.

C. Memupuk Rasa Percaya Diri (Dari Sudut Pandang Psikologi)

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu harus memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat Bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Beberapa saran mungkin layak menjadi pertimbangan jika anda sedang mengalami krisis kepercayaan diri.

1. Evaluasi diri secara obyektif.Belajar menilai diri secara ob yektif dan jujur.  

Susunlah daftar “kekayaan” pribadi, spt prestasi yg sudah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yg dimiliki, serta kesempatan atau sarana yg mendukung kemajuan diri. Sadari asset-aset berharga anda dan temukan asset yg belum dikembangkan. pelajari  kendala yg selama ini menghalangi pengembangan diri anda, seperti : pola berpikir yg keliru, niat dan motivasi yg lemah, kurangnya disiplin diri dan kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau sebab-sebab eksternal lainnya. Hasil analisa danpemetaan terhadap SWOT (strength), (Weakness), (Opportunities) dan (threats) diri kemudian gunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yg lebih realistic.

2.  Beri penghargaan yg jujur terhadap diri sendiri.    

Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda miliki. Ingatlah bahwa semua ini didapat melalui proses belajar, ber-evolusi dan transformasi diri sejak dulu hingga kini. Mengabaikan/meremehkan satu saja presatasi yg pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yg membantu anda menemukan jalan yg tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menhgargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yg tidak realistic dan berlebihan, contoh: ingin cepat kaya, ingin cepat popular dengan menghalalkan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu, sebernarnya bersumber dari rasa rendah diri yg kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidakmampuan menghargai diri sendiri – hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri sendiri.

3.  Positif Thinking (husnudhon)    

 cobalah memrangi setiap asumsi, pasangka atau persepsi negative yg muncul dalam benak kita. Kita bisa katakana pd diri sendiri bahwa no body’s perfect (tidak ada seorangpun yg sempurna) dan it’s ok if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negative berlarut-larut kerana tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Jangan biarkan pikiran negative anda menguasai pikiran dan perasaan anda. Hati-hatilah agar masa depan anda tidak rusak karena keputusan kelitu yg dihasilkan oleh pikiran yg keliru. You ‘re what you think you’re!

4. Gunakan self affirmation (penguatan diri)    

untuk memerangi negative thinking (su’udhon), gunakan self affirmation yaitu berupa kata-kata yg membangkitkan rasa percaya diri, spt:

  • Saya pasti bisa, dengaan izin Allah!
  • Saya penentu dari keputusan yg saya ambil dalam hidup saya, dan bukan orang lai!
  • Saya bisa belajar dari kesalahan ini, kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yg sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan!
  • Saya bangga pada diri sendiri!

5.     Berani mengambil resiko.

Berdasarkan pemahaman diri yg obyektif, seseorang bs memprediksi resiko setiap tantangan yg dihadapi. Dengan demikian, seseorang tidak perlu menghindari setiap resiko, melainkan berupaya untuk menghadapi dan mengatasi setiap resiko. Ingat : No risk, No gain (tidak ada resiko, tidak ada hasil).

6.  Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan.   

 Ada sebuah ungkapan yaitu orang yg paling menderita hidupnya adalah orang yg tidak bisa mensykuri atas apa yang Allah berikan dalam hidupnya. Maksudnya, indivudu tsb tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan yg dijalaninya selama inipun tidak dilihat sbg pemberian dari Allah.  Akibatnya dia tidak bisa bersyukur atas semua berkat, kekayaan, prestasi, pekerjaan, keahlian, uang, keberhasilan, kegagalan serta berbagai pengalaman hidupnya.

7.  Menetapkan tujuan yg realistic.    

 Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yg anda tetapkan selama ini apakah sudah relistik atau belum. Dengan menetapkan tujuan yg realistik maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tsb. Dengan demikian anda akan lebih percaya diri dlm menghadapi setiap tindakan dan keputusan di masa depan.     Dengan banyak berhubungan/bergaul dg orang yg kuat percaya dirinya mk bs mempengaruhi rasa percaya diri sesorang shg menjadi kuat.

RASA PERCAYA DIRI DALAM DIMENSI AGAMA  

   Sebagai mahluq ciptaan Allah SWT yg paling mulia maka sudah sewajarnya bahwa kedudukan kita sama dihadapan Allah sehingga tidak pantas merasa hina (rendah diri) dihadapan manusia lain. Oleh karena itu dalam meningkatkan rasa percaya diri, dalam dimensi agama kita seharusnya:

1.     Selau merasa besar hati dalam menghadapi segala permasalahan, tidak takut dan penuh rasa percaya diri dalam berkarya dan bertindak karena apapun hasilnya dimata Allah tetap mulia.

2.     tahan uji dan tidak mudah putus asa karena sesungguhnya Allah beserta kita.

3.     selalu berfikiran positif (husnudhon) dan menghindarkan diri dari prasangka negative (su’udhon).

4.     selalu bersyukur terhadap nikmat Allah dan memanfaatkan nikmat tsb apa adanya tanpa harus mengeluh terhadap apa yg tidak diterimanya krn semuanya adalah qodar dari Allah yg harus diterima dg ridlo.

5.     selalu berusaha memperbiki diri sendiri dalam segala urusan dan selalu berbuat yg terbaik dan berbuat untuk kebaikan semuanya.

Demikian tulisan ini semoga ada manfaanya.

Sumber : Makalah CAI 2006.

Ditulis dalam berita. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Membangun RasaPercaya Diri (bag. terakhir)”

  1. Timboel'S Says:

    kuscuran kucuran air yang sejuk seperti inilah yang dibutuhkan oleh para pemuda dan pemudi di Indonesia agar menjadi manusia yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
    but semua kuncinya ada di diri sendiri apakah self motivation nya tinggi untuk menjadi best of the best.
    salam kenal
    by, orang yang baru belajar tuk menjadi air wudhu

    yups. saya setuju dg pendapat sdr. txh sudah mau singgah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: