tUKulisme, Laptop dan Guru.

“Kembali ke laptop” idiom ini  sangat populer sekali di tengah masyarkat dari anak kecil sampai orang dewasa, dari kondektur sampai direktur bahkan dari masyarakat awam sampai politikus senayan. Kepopuleran ungkapan ini dan Tukul barangkali melebihi dari laptop itu sendiri. Gara-gara Tukulisme, alih-alih tukul1.jpguntuk meningkatkan kinerja anggota DPR, dibuatlah program pengadaan LAPTOP yang nilainya Rp. 21 juta setiap unitnya yang menimbulkan gelombang protes dimana-mana. Logikanya? Masa sih dengan gaji puluhan juta setiap bulan untuk membeli sebuah laptop saja harus minta pada Negara. Gara-gara Tukul, dalam sebuah kesempatan Bapak Sofyan Jalil (menkominfo saat itu) menyatakan bahwa tukul lebih berhasil memasyarakatkan kegunaan dan pentingnya laptop dibandingkan Kementriannya. Tukul dangan “kembali ke laptop”nya ternyata mampu meningkatkan angka penjualan Note Book.Dari konsep isi, acara talk show  tersebut tergolong biasa saja tanpa keistimewaan. Sang Host bertanya pada bintang tamu , para selebritis, pejabat menjawab. Nilai plusnya bahwa images47.jpgpertanyaan itu sudah disiapkan pada laptop dan ”kebodohan” Tukul baik dalam pengucapan bahasa Inggris yang belepotan maupun dengan “menjual” kekurangan yang ada pada dirinya. Dan pada akhirnya penonton “membelinya” dengan rasa puas.

Apa hubungannya dengan guru?

Kembali ke laptop, eh tukul ……Fenomena di atas memberikan bukti pada kita bahwa belum banyak masyarakat kita yang tahu apa itu “laptop”, termasuk guru. Saya teringat cerita teman saat saya masih bertugas di sebuah SMK di salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat tahun 2003 yang lalu. Beliau sudah senior golongannya IV/a dan saat itu diutus oleh dinas pendidikan untuk mengikuti DIKLAT Calon Kepala Sekolah di PPG Cianjur. Sepulang dari pelatihan beliau cerita kalau teman-temannya  berasal dari SMK di Jawa, Makasar datang ke Cianjur sudah siap dengan “Komputer Jinjing” dan “Flashdisk” yang lengkap dengan file-file data yang diperlukan. Sementara dia hanya bawa Disket yang ketika akan presentasi belum tentu bisa dibuka filenya.  

Kenyataan itu tidak bisa dipungkiri bahwa ribuan guru di Republik ini masih banyak yang belum tahu “Laptop” ini lebih-lebih yang bertugas di daerah-daerah pedalaman, apalagi memilikinya. Bagi sebagian guru yang bertugas di kota-kota besar, pemandangan orang menjinjing laptop atau sedang membukanya seperti di café, di loby hotel atau di rumah makan adalah hal yang biasa bahkan banyak juga guru-guru yang sudah memilikinya apalagi yang mobilitasnya tinggi. Namun masih banyak juga yang belum punya karena ketidakmampuan untuk membelinya. Untuk lebih memasyarakatkan lagi laptop ini pada guru perlu dipikirkan barangkali dengan digulirkanya Kredit Pemilikan Laptop. Siapkah Bank memfasilitasinya …………….?

3 Tanggapan to “tUKulisme, Laptop dan Guru.”

  1. dewanpendidikan Says:

    Bravo … dah bisa link flickr ya … selamat … terus mencoba … pasti dapat

  2. dewanpendidikan Says:

    Wah hebat … photonya sudah on … sekarang coba interaktif di CBOX… selamat mencoba

  3. murniramli Says:

    ide kredit laptopnya menarik juga.
    Seharusnya didengar oleh pengusaha laptop untuk memproduksi laptop murah tp bermutu u guru (^_^). Guru adalah pangsa pasar yang besar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: