Terserabutnya Estetika Ruang Publik kita

Pemilu legeslatif tinggal hitungan hari. Para caleg dari berbagai partai politik baik untuk DPRD Kota/Propinsi maupun Pusat sudah mulai menjajakan jualannya setidaknya dalam bentuk foto diri. Oleh karena itu di sudut-sudut kota bahkan desa yang menjadi ruang publik, kita menyaksikan foto-foto calon politisi bertebaran baik dalam ukuran mini sampai raksasa. Semuanya mencantumkan infomercial khusus, spt gelar akademis lengkap, gelar agama bahkan gelar bangsawan pun dimasukan. Hal itu tentunya berdasarkan keyakinan bahwa credential-credential ini bisa mempengaruhi publik.

Tidak salah memang yang mereka lakukan dimana arena kompetisi untuk menjadi seorang legislator begitu ketatnya. Dengan jumlah partai yang begitu banyak dan masing-masing mencalonkan orang-orang terbaiknya sudah pasti akan terjadi persaingan ketat untuk bisa duduk di kursi DPR atau DPRD. Belum lagi dengan sistem suara terbanyak dalam penentuan calon yg menang, kompetisi ini tidak hanya dirasakan dengan caleg dari partai lain tetapi jg dalam  internal partai. Bagi caleg yang sudah dikenal luas oleh publik baik karena mereka selebriti, incumbent, atau mantan pejabat sipil atau militer penyebaran foto diri mungkin tidak semasif caleg-caleg yang tidak dikenal. Lain halnya caleg yang diajukan oleh parpol baru dimana publik belum mengenalnya. Salah satu yg paling efektif untuk “menjual diri”nya agar dikenal publik yaitu dengan penyebaran spanduk, poster, pamflet, kartu nama dsb. Apa yang terjadi kemudian?

lebih lanjut klik disini

Hari Guru Nasional (sebuah renungan)

Hari Guru Nasional yang sekaligus juga berbarengan dengan HUT PGRI ke 63 telah kita sama-sama lewati. Kemeriahan dalam rangka menyambut HUT ini ditandai dengan berbagai kegiatan baik dalam skala tingkat kabupaten/propinsi maupun nasional seperti gerak jalan, pertandingan olah raga sampai kongres yang diadakan selama 2 hari tanggal 27 dan 28 Nopember di Balai Kartini. Berita-berita yang menggembirakan sebagai bentuk apresiasi terhadap profesi guru meluncur dari pejabat di negeri ini mulai dari gaji paling rendah 2 juta sampai pembayaran tunjangan profesi yang segera akan dibayarkan termasuk juga program sertifikasi.

Namun disisi lain, setiap Hari Guru juga mengisahkan cerita pilu dari sebagian teman-teman guru yang berstatus honorer. Pengabdian mereka dalam upaya mencerdaskan anak bangsa tidak sebanding dengan gaji yang diterimanya. Jangankan untuk membeli buku untuk memperkaya pengetahuannya, sekedar mempertahaankan agar kebutuhan hidup keluarga terpenuhi kadang harus nyambi kerja yang lain.

Demikian juga teman-teman guru bantu yang ada di Jakarta, berbeda dengan guru bantu yang ada di daerah yang sudah diangkat menjadi PNS, teman-teman di Jakarta belum jelas nasibnya. Berbagai upaya dan usaha sudah mereka lakukan seperti demonstrasi, mendatangi DPRD, Dinas pendidikan tapi hasilnya masih kalau boleh dikatakan “gelap”. Bahkan hak-hak mereka yang seharusnya sudah diterima belum juga diberikan. Demikian sepenggal kisah pilu dari teman-teman guru yang kebetulan statusnya belum PNS terkait hari guru nasional meskipun sama-sama mempunyai tugas dan tanggung jawab yaitu mendidik anak bangsa menjadi generasi yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis dan berakhlak. Bersabarlah wahai teman-teman…..(kelihatannya mudah mengatakan tapi kenyataan berat menjalankannya)

Dan bagi teman-teman yang beruntung, peningkatan kesejahteraan hendaknya dibarengi dengan peningkatan kompetensi dalam mendidik dan mengajar. Jadilah guru yang “OUT OF BOX”, yang bisa memberikan inspirasi pada anak didik kita sehingga menjadi generasi yang lebih baik. Berubah adalah kata kuncinya.

Berubah dari kebiasaan yang monoton atau yang itu-itu saja sementara hal itu tidak memberikan kemajuan pada diri kita dan sekelilingnya

Berubah ke arah peningkatan kualitas diri dalam rangka mengemban amanah negara mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga………………….

Dunia Blogger: dari Narsis sampai Citizen Jurnalism

Blog atau web blog sejak pertama kali diperkenalkan oleh Jorn Barger tahun 1998 telah mengalami perkembangan yang sangat pesat  baik yang berbayar maupun gratisan. Khusus untuk penyedia web blog gratisan seperti wordpress.com, blogger.com hampir setiap jam membernya selalu bertambah. Pada awalnya istilah blog ini diberikan kepada orang-orang yang memiliki website pribadi dan selalu meng-updatenya baik itu berita, link ke website lain, curhatan, tutorial dan sebagainya.

Baca entri selengkapnya »

Barack Obama dan Pilpres 2009

Sudah banyak pakar baik politik, ekonomi, militer yang mengomentari kemenangan Obama dalam pemilihan presiden AS saat ini yang bisa kita baca dan dengar dari berbagai media.  Semua dikaitkan dengan prospek hubungannya dengan negara kita, Indonesia. Dan semuanya optimis hubungan bilateral Indonesia-AS akan lebih baik lagi. Optimisme ini dilatarbelakangi masa kecil Obama yang pernah tinggal di negeri ini sehingga paling tidak ada ikatan psikologis. Mudah-mudahan kebijakan AS yang berhubungan dengan Indonesia nantinya memberikan warna positif sehingga menguntungkan Indonesia sesuai dengan harapan presiden dan wapres SBY – JK ketika diminta tanggapan atas kemenangan Obama.

Sejarah telah terukir di AS, Obama menjadi presiden keturunan Afro Amerika pertama yang berhasil menduduki gedung putih. Obama memang fenomenal, menjalani karir politik yang cukup singkat untuk bisa masuk senat kemudian memenangkan konvensi calon presiden dari partai demokrat dengan mengalahkan Hilary Clinton yang lebih senior. Muaranya, dengan sligan “Change” dalam menghadap John Mc Cain dari partai republik, Obama menang mutlak dalam pemungutan suara tanggal 4 Nopember lalu.

Apa yang bisa kita petik dari kemenangan Obama ini?

Pilpres 2009 tinggal menghitung bulan, capres yang diusung oleh parpol masih muka-muka lama (generasi tua). Wacana regenerasi kepemimpinan nasional masih sering disuarakan oleh kalangan muda yang dimotori Yudi Chrisnandi (politisi partai Golkar) dan Fajrul Rachman (aktivis). Mereka berpendapat selama golongan tua masih memimpin negeri ini maka negeri ini tidak akan bisa keluar dari berbagai masalah. Namun rasanya sulit untuk mewujudkan itu, sistem perpolitikan kita masih menerapkan sistem ewuh pakewuh artinya ketua umumlah yang biasa diusulkan untuk menjadi capres seperti yang selama ini terjadi. Dan notabene ketua umum partai yang ada saat ini masih muka lama alias golongan tua. Syarat pencalonan presiden seperti yang tercantum dalam UU pilpres juga mempersulit kalangan muda untuk masuk bursa.

apa yang harus dilakukan golongan muda?

Pilpres 2009 mungkin belum saatnya golongan muda untuk maju ke pentas nasional, tapi paling tidak berkaca pada kemenangan Obama yang saat ini 47 tahun, 2014 adalah saat yang paling tepat untuk bisa bersaing dalam perebitan RI 1. Politisi-politisi muda yang saat ini berumur 40-an dan tersebar di berbagai parpol harus sudah mulai menyusun strategi dan “good image”. Banyak hal yang harus diperbuat oleh kaum muda untuk bisa mendapat simpati masyarakat di 2014 nanti. Proses pembentukan good image (pencitraan positif) membutuhkan kerja keras dan perjuangan. Mulailah dari sekarang bila ingin mengusung perubahan.

sudah siapkan anda semua wahai politisi muda?

Fenomena Laskar Pelangi

Beberapa hari ini, setiap pagi  di ruang guru teman-teman (khususnya Ibu-ibu) ramai membicarakan film “Laskar Pelangi” sebuah film yang diangkat dari novel tulisan Andrea Hirata. Rupanya teman-teman terkesan setelah menonton film tesebut apalagi yang belum sempat membaca versi novelnya. Mereka begitu antusias sekali bercerita tentang tokoh Ibu Muslimah, Lintang, Ikal dan teman-temannya.

“ Saya salut masih anak SD harus naik sepeda sejauh itu ke tempat sekolahnya”, cerita seorang teman.  

“Iya ya, sampai-sampai harus niunggu buaya lewat dulu baru dia bise melanjutkan perjalannya”, timpal yang lain.

“Bu Muslimah sabar banget meski dengan segala keterbatasan tapi dia tetap semangat ngajar anak-anak itu”. Bu Yanti menambahkan.

Demikian sekelumit perbincangan teman-teman yang saya tangkap pagi itu. Ternyata mereka menonton film tersebut dengan anak-anak dan keponakanya. Agar bisa menjadi inspirasi bagianak-anak bahwa dengan segala keterbatasan dan kekurangan ternyata bisa berhasil demikian kira-kira alasan orang tua mengajak nonton film tersebut.

Baca entri selengkapnya »

Sertifikasi dan Profesionalisme Guru

Euforia kebahagiaan terpancar pada wajah teman-teman guru sejak kemarin dan masih dirasakan hari ini.  Tunjangan profesi yang selama ini dinanti-nantikan pasca lulusnya mereka dari proses sertifikasi baik melalui portofolio maupun DIKLAT GURU telah cair di rekening mereka masing-masing. Kegelisahan ternyata sudah terjawab dan harapan untuk memperoleh tambahan penghasilan diluar gaji terpenuhi. Bagaimana selanjutnya?

Berangkat dari keinginan pemerintah untnuk meningkatkan kesejahteraan guru yang selama ini dianggap masih kurang dan menjadi salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan di negara ini maka langkah yang ditempuh pemerintah yaitu dengan membuat UU Guru dan Dosen. UU inilah yang menjadi pintu masuk untuk peningkatan kesejahteraan ini.

Baca entri selengkapnya »

2 Kejadian Tragis di Bulan Ramadhan

Ada dua kejadian yang cukup memprihatinkan kita semua dalam dua hari ini di bulan suci ramadhan. Pertama enam orang anak yang diharapkan sebagai generasi penerus bangsa tewas sia-sia tenggelam di Danau karena menghindari kejaran lawan dan patroli polisi saat tawuran antar warga di Ciputat. Kedua, 21 orang dinyatakan meninggal terinjak-injak pada saat mengantri pembagian zakat di Pasuruan. Yang menyedihkan adalah nilainya yang hanya Rp. 20.000,-.

Untuk peristiwa yang pertama, sungguh sangat miris di saat kita sedang berpuasa melawan hawa nafsu ternyata masih ada saja orang-orang yang dipengaruhi olehnya sehingga emosi tidak bisa dikendalikan. Hal sepele (masalah petasan) menyebabkan dua kelompok warga yang umumnya masih remaja saling lempar batu tawuran sedangkan kejadiaan itu sehabis sholat shubuh. Persoalan tawuran di negeri ini seolah menjadi hal biasa dan sering terjadi di beberapa daerah. Sebelumnya masih di Jakarta terjadi tawuran antara warga Manggarai dan Setiabudi gara-gara rebutan lahan parkir. Di Bojonegoro terjadi perkelahian antara anggota sebuah perguruan silat dengan msyarakat. Apa yang sedang terjadi dengan negeri ini?

Baca entri selengkapnya »

Membangun Kemandirian Bangsa (bag. pertama)

Indonesia Bisa dan Indonesia Bangkit, adalah slogan/pekik yang kita dengar akhir-akhir ini dalam rangka memperingati satu abad Kebangkitan Nasional. Dalam konteks inilah saya mencoba menulis tentang harapan saya dan semua masyarakat Indonesia mengenai kemandirian Bangsa. Berharap Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dalam berbagai aspek dan tidak mudah didikte, dipengaruhi apalagi dilecehkan dalam hal ekonomi, politik, dan hankam.

A. PENDAHULUAN

Pada hakekatnya makhluk hidup di muka bumi ini tidak terlepas dari adanya ketergantungan dan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya dan juga dengan lingkungannya. Namun, diatas ketergantungan dan keterkaitan itu, Allah menciptkan keteraturan, dimana pada posisi ini akan tercapai suatu keseimbangan, sehingga setiap unsur atau makhluk hidup dalam kondisi hidup yang seimbang dengan lingkungan yang dihuninya. Proses keteraturan itu analog dengan proses terciptanya kemandirian bagi manusia, dan biasanya kemandirian ini diperoleh setelah dewasa. Pada usia dewasa inilah manusia bisa mandiri dalam banyak hal termasuk dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Sudah barang tentu proses menuju kemandirian cepat atau lambat, sangat ditentukan oleh cepat atau lambat  berkurangnya tingkat ketergantungan dan keterkaitan, sehingga pada gilirannya terwujudlah kemandirian.

Membngun kemandirian bangsa berarti memahami poses kemandirian sebagai suatu usaha membangun bangsa yang mampu menyelesaikan setiap masalah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan bermartabat. Dengan umur bangsa yang sebentar lagi berulang tahun ke 63, sudahkan bangsa ini mandiri? Sudahkah Bangsa ini mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera? Dan sudahkan bangsa ini memiliki martabat yang sehingga tidak lagi ada bangsa lain yang melecehkan? Maka sangat penting kiranya membangun bangsa yang mandiri ditengah pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia dan di era globalisasi yang sangat berpengaruh ini. Dari sisi usia sejak negeri ini merdeka, seharusnya sudah mampu menjadi negara yang tidak terlalu tergantung pada belas kasihan negara lain, tidak terlalu terpengaruh kondisi gejolak financial di negara lain dalam roda perekonomian dan seharusnya juga memiliki kebanggaan atas produk yang dihasilkan sendiri sebagai pembuktian atas kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca entri selengkapnya »

Ironi Negara Agraris

Negeri agraris yang terkenal kesuburan tanahnya ini selalu dirundung duka yang berkepanjangan. Masa keemasan sebagai negara yang berhasil dalam hal swasembada pangan, terpuruk menjadi negara pengimpor beras sehingga harganya makin mahal. Pengrajin tahu tempe banyak yang kolaps saat kedelai dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka sehingga harus membeli kedelai impor yang harganya jauh lebih tinggi. Padahal tahu dan tempe adalah menu sehari-hari dari kebanykan masyarakat kita. Disisi lain, melambungnya harga minyak mentah dunia yang berakibat pada kenaikan harga pangan, banyak masyarakat miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka sehingga di beberapa daerah banyak kasus busung lapar dan penderita gizi burukyang kita temui. Ibarat pepatah ” tikus mati di lumbung padi”, apakah mereka akan kelaparan dan mati di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi. Negara ini gagal mewujudkan tujuan dasar sebagaimana yang diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945.

Fokus pemerintah yang lebih mementingkan industrialisasi dan menafikan sektor pertaniaan menjadi salah satu penyebab keterpurukan ini. Departemen Pertanian sebagai pelaksana teknis dalam pembangunan pertanian belum optimal dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berbasis pada pertanian kalau boleh dikatakan sangat tertinggal dibandingkan dengan negara Thailand. Keprihatinan bertambah dengan minimnya peminat generasi muda/lulusan SMA yang memilih jurusan pertanian. Dari hasil pengumuman SNMPTN hari ini 2894 kursi jurusan pertanian tidak terisi alias kosong (sumber). Sungguh menyedihkan melihat kondisi ini sementara menurut informasi, Departemen Pertanian masih kekurangan tenaga Penyuluh Pertanian lapangan (PPL). Kurang minatnya generasi muda terhadap profesi ini atau sektor pertanian dan peternakan barangkali karena pandangan bahwa bekerja disektor ini kurang prestise dan kurang menjanjiakn secara ekonomi. Padahal yang diharapkan adalah bukan bekerja an sich, tetapi bagaimana dengan pengetahuan dan teknologi yang meraka miliki di perkuliahan bisa diterapkan dalam mengembangkan potensi luas lahan dan kesuburan tanah yang dimiliki negeri menjadi produk unggulan pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Mungkin perlu terobosan khusus untuk merangsang para lulusan SMA memilih jurusan pertanian dan peternakan ini dengan program beasiswa misalnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor ini. Sungguh ironi bila negeri agraris ini harus kekurangan tenaga ahli dibidangya apalagi kalau generasi mudanya sudah tidak peduli atas tanah yang subur ini sebagaimana lyrik lagu koesplus:

“………………………….
orang bilang tanah kita tanah sorga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Menulis, apa susahnya sich?

Sudah lama gubug ini tidak saya buka sejak pertengahan bulan lalu dan  begitu juga dengan kegiatan blog walking ke rumah-rumah tetangga. Ketidaksempatan membuka blog ini diawali saat disibukan dengan ujian akhir semester dilanjutkan pengisian dan pencetakan KHS kemudian menjadi bagian dari panitia PSB. Dengan hanya mengandalkan akses gratis di sekolah so kesempatan nge”net” hanya bisa dilakukan di sekolah (maklum belum bisa beli modem HDSPA). Beside, kering ide dan miskin krativitas barangkali adalah faktor utama dari tidak bertambahnya tulisan di blog saya ini. Sejujurnya banyak hal yang ingin saya sampaikan terkait berbagai macam isu yang sedang berkembang atau sesuatu yang bisa di jadikan bahan tulisan tetapi terkadang malas untuk memulai sehingga ide tinggalah ide.

Ada ungkapan, Banyak orang yang pandai berpidato tapi sangat sedikit orang yang pandai menulis, demikian juga seorang guru banyak guru yang pandai menjelaskan/menerangkan di depan kelas tapi sangat sedikit guru yang pandai menulis. Suatu kali saya pernah mengikuti kegatan sosialisasi dalam rangka Sayembara penulisan naskah buku pengayaan yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas, bahwa indikasi minimnya kemampuan guru di dalam menulis sangat jelas terlihat pada sangat sedikitnya naskah-naskah yang masuk ke panitia setiap ada kegiatan sayembara , bandingkan dengan jumlah guru yang ada di negeri ini. Kalau kita mau jujur tidak hanya dalam hal menulis saja rendahnya kemampuan guru, tetapi budaya membaca juga setali tiga uang. Padahal kemampuan menulis seseorang sangat dipengaruhi oleh sumber bacaan. Pengetahuan, informasi dan Perbendaharaan kata yang merupakan bahan dalam menulis hanya bisa diperoleh melalui referensi dari sumber bacaan yang kita baca baik buku, majalah, jurnal maupun surat kabar.

Lebih lanjut klik disini