Mengembangkan Kreativitas

musik-barang-bekasSeni Budaya adalah materi pelajaran baru di SMK yg merupakan implementasi dari KTSP. Sudah barang tentu alat dan sarana penunjang pembelajaran belum ada. Tapi gak usah hilang akal, karena keterbatasan biasanya akan muncul ide-ide yang bisa mengatasi persoalan tsb. Salah satu ide yang dikembangkan adalah memanfaatkan barang bekas untuk dijadikan alat musik dalam menjabarkan kompetensi.  Begitulah pak Mulyadi menyiasati keterbatasan ini. Dengan memanfaatkan botol kosong, tutup panci, botol air mineral dan dengan tambahan pianica jadilah barang-barang bekas tsb mengeluarkan bunyi2 yang harmoni. Dalam perpisahan guru yang pensiun pertunjukan ini dipertontonkan kepada kami dengan membawakan lagu seperti si jali-jali, manuk dadali dan beberapa lagu lainnya.

Melepas Sahabat Yg Purna Tugas

Ibu Bertha, Pak Amar dan Bu Rosta

Dari Ki-ka : Ibu Bertha, Pak Amar dan Bu Rosta

Kebahagiaan seorang pegawai adalah ketika mereka berhasil memasuki masa purna tugas (pensiun) dalam keadaan sehat walafiat. Lepas sudah semua beban tugas dan tanggung jawab serta rutinitas sehari – hari dari penatnya pekerjaan.Dan saatnya kini memasuki suasana kehidupan baru yang bebas.  Rabu, 11 February keluarga besar SMK Negeri 3 Jakarta melepas 3 teman yang bulan Januari ini memasuki masa purna tugas. Meraka adalah Ibu Bertha Aritonang, Ibu Rostaria Sitinjak, Guru, dan Pak Amar Suhendar staf TU. Kami hanya bisa berharap semoga kalian bertiga senantiasa sehat walafiat dan pengabdiannya bisa diterima Tuhan yang maha kuasa , kami yang masih akatif akan meneruskan perjuangan kalian mencerdaskan anak bangsa tercinta. Untuk itu sebuah puisi dari anak-anak yang kalian tinggalkan.

Baca entri selengkapnya »

Terserabutnya Estetika Ruang Publik kita

Pemilu legeslatif tinggal hitungan hari. Para caleg dari berbagai partai politik baik untuk DPRD Kota/Propinsi maupun Pusat sudah mulai menjajakan jualannya setidaknya dalam bentuk foto diri. Oleh karena itu di sudut-sudut kota bahkan desa yang menjadi ruang publik, kita menyaksikan foto-foto calon politisi bertebaran baik dalam ukuran mini sampai raksasa. Semuanya mencantumkan infomercial khusus, spt gelar akademis lengkap, gelar agama bahkan gelar bangsawan pun dimasukan. Hal itu tentunya berdasarkan keyakinan bahwa credential-credential ini bisa mempengaruhi publik.

Tidak salah memang yang mereka lakukan dimana arena kompetisi untuk menjadi seorang legislator begitu ketatnya. Dengan jumlah partai yang begitu banyak dan masing-masing mencalonkan orang-orang terbaiknya sudah pasti akan terjadi persaingan ketat untuk bisa duduk di kursi DPR atau DPRD. Belum lagi dengan sistem suara terbanyak dalam penentuan calon yg menang, kompetisi ini tidak hanya dirasakan dengan caleg dari partai lain tetapi jg dalam  internal partai. Bagi caleg yang sudah dikenal luas oleh publik baik karena mereka selebriti, incumbent, atau mantan pejabat sipil atau militer penyebaran foto diri mungkin tidak semasif caleg-caleg yang tidak dikenal. Lain halnya caleg yang diajukan oleh parpol baru dimana publik belum mengenalnya. Salah satu yg paling efektif untuk “menjual diri”nya agar dikenal publik yaitu dengan penyebaran spanduk, poster, pamflet, kartu nama dsb. Apa yang terjadi kemudian?

lebih lanjut klik disini